Illustrasi Panel Surya. Dok : AFP.
Illustrasi Panel Surya. Dok : AFP.

Pemerintah Butuh Energi Terbarukan untuk Pasokan Listrik

Nasional energi terbarukan
Whisnu Mardiansyah • 11 Desember 2019 02:26
Jakarta: Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jazuli Juwaini mengatakan kebutuhan elektrifikasi yang merata dan menyeluruh sudah sangat mendesak. Sementara sumber dayanya secara konvensional terbatas.
 
Pemerintah saat ini sebagian besar masih mengandalkan energi baru bara sebagai pembangkit listrik. Jika pasokan batu bara terhambat, imbasnya beban kebutuhan listrik bisa kolaps seperti yang terjadi pemadaman massal beberapa waktu lalu.
 
"Hidup kita hari ini nyaris 100 persen tergantung listrik dengan kebutuhan yang semakin meningkat setiap tahun. Dan kebutuhan terbesar ada pada sektor rumah tangga. Kalau kapasitas suplai dan distribusi listrik kita masalah bisa terbayang potensial kerugiannya. Dan kita mengalami beberapa waktu lalu khususnya di Jakarta," kata Jazuli di Jakarta, Selasa, 10 Desemeber 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Data saat ini, kebutuhan listrik nasional menunjukan 48,85 persen disedot sektor rumah tangga, baru sektor industri 32,44 persen dan sektor bisnis 18,23 persen. Sisanya 7,48 persen tersebar di pelanggan sosial dan publik.
 
Di sisi lain, Jazuli mengapresiasi upaya pemerintah saat ini elektrifikasi di Indonesia yang sudah mencapai 98,86 persen berdasarkan laporan Kementerian ESDM. Namun, perlu dijaga
kualitas elektrifikasi agar suplai dan diatribusi listrik tetap terjaga dan stabil.
 
"Jangan byar pet lagi terutama di daerah-daerah terpencil dan pelosok. Tanggung jawab pemerintah menjamin pasokan listrik agar tidak ada lagi daerah yang masih gelap gulita," tegas Jazuli.
 
Terang Jazuli, mengingat pasokan sumber daya pembangkit listrik terutama dari batu bara mengakibatkan biaya listrik naik. Pemerintah harus memikirkan dan menyediakan listrik murah bagi rakyat yang berpendapatan rendah.
 
"Untuk mengatasi hal itu, ke depan negara dan pemerintah harus kreatif dan inovatif mencari alternatif sumber energi yaitu dengan lebih cepat membangun energi terbarukan," terang Jazuli.
 
Hal itu berkaca dari negara Uni Eropa di mana targetnya porsi energi terbarukan 57 persen pada energi listrik di 2030, Cina 50 persen juga di 2030. Demikian juga AS, Australia, dan negara-negara ASEAN.
 
"Pemerintah harus kreatif dan inovatif menghadirkan sumber-sumber energi listrik terbarukan untuk memenuhi kebutuhan rakyat dengan harga yang terjangkau. Untuk itu perlu sinergitas kebijakan dalam perencanaan dan implementasi industri energi terbarukan," pungkasnya.
 

(ADN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif