Gedung KPU. Foto: Medcom.id/Faisal Abdalla
Gedung KPU. Foto: Medcom.id/Faisal Abdalla

OTT Wahyu Setiawan Dinilai Beri Sentimen Negatif ke KPU

Nasional OTT KPK
Antara • 10 Januari 2020 19:42
Jakarta: Penangkapan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan dinilai memberikan sentimen negatif pada lembaga penyelenggara pemilu. KPU diminta segera mengatasi dengan mengembalikan kepercayaan publik.
 
"OTT (operasi tangkap tangan) ini menjadi guncangan berat bagi KPU. Jika KPU RI (komisionernya) bisa melakukan (terlibat dugaan suap), bagaimana KPU daerah? Pemikiran publik pasti ke arah itu," kata peneliti Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Fadli Ramadhanil di Jakarta, Jumat, 10 Januari 2020.
 
Menurut dia, pengawasan koalisi masyarakat sipil bersama media massa juga harus ditingkatkan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Abhan mengatakan pihaknya akan mengadukan Wahyu ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Wahyu dinilai melanggar kode etik sebagai penyelenggara negara.
 
"Dalam konteks kode etik penyelenggara, Bawaslu akan mengadukan yang bersangkutan, WS. ke DKPP dengan gugatan pelanggaran kode etik, yaitu melanggar sumpah janji," tegas Abhan di Kantor Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta.
 
Abhan berharap status keanggotaan Wahyu Setiawan segera jelas dan berkepastian hukum dengan putusan DKPP.
 
Wahyu ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK pada Kamis, 9 Januari 2020. Wahyu diduga menerima suap terkait penetapan anggota DPR terpilih 2019-2024.
 
Suap itu diberikan kader PDI Perjuangan Harun Masiku. Tujuannya, agar Wahyu memuluskan jalan Harun menjadi anggota DPR daerah pemilihan Sumatera Selatan I menggantikan caleg DPR terpilih Fraksi PDI Perjuangan Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia.
 
Untuk memenuhi permintaan Harus, Wahyu meminta dana operasional Rp900 juta. Namun, Wahyu hanya menerima Rp600 juta.
 
Suap itu diduga diterima Wahyu dalam dua tahap. Pertama, pada pertengahan Desember 2019. Saat itu, Wahyu menerima uang dari orang kepercayaannya, Agustiani Tio Fridelina, Rp200 juta di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan.
 
Uang ini didapat Agustiani dari Saeful, pihak swasta, namun KPK masih mendalami dari siapa sumber uang Rp200 juta itu.
 
Wahyu diduga kembali menerima suap Rp400 juta pada akhir Desember 2019. Uang tersebut masih ada di tangan Agustiani. Agustiani menerima uang itu dari Harun yang diberikan lewat Saeful.
 


 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif