Presiden Joko Widodo. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Presiden Joko Widodo. Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden

Presiden: Holding BUMN Pariwisata Keharusan

Nasional Jokowi BUMN Pariwisata pariwisata indonesia Kunjungan Kerja Jokowi
Andhika Prasetyo • 13 Januari 2022 19:22
Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan pembentukan holding BUMN pariwisata berupa keharusan. Melalui terobosan itu, Kepala Negara optimistis pengelolaan industri pariwisata perusahaan-perusahaan negara akan lebih optimal.
 
"Penataan BUMN pariwisata adalah keharusan agar kemajuan sektor pariwisata dapat dirasakan dampaknya oleh masyarakat," ujar Jokowi saat meresmikan InJourney, holding BUMN pariwisata, di Lombok, Kamis, 13 Januari 2022.
 
Jokowi melihat BUMN dengan anak yang banyak, dengan cucu yang banyak, bergerak di sektor pariwisata dari hulu sampai hilir, berjalan sendiri-sendiri tanpa ada konsolidasi. Hal tersebut membuat kinerja yang dihasilkan menjadi lemah dan tidak maksimal.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Apa lagi kalau kita bicara soal manajemen, pengelolaan manajemen BUMN ini kalah jauh, kalah jauh sekali dengan perusahaan-perusahaan swasta. Karena kecil-kecil, sendiri-sendiri, tidak terhubung satu sama lain," papar Jokowi.
 
Jokowi menjelaskan aset yang dimiliki holding BUMN pariwisata begitu besar. Bahkan, pada 2024, nilainya diproyeksikan akan menyentuh Rp260 triliun.
 
Hal tersebut didukung dari sektor penerbangan, pengelolaan bandara, perhotelan, hingga pengelolaan kawasan pariwisata. Salah satu contohnya Nusa Dua, Mandalika, Borobudur, dan TMII.
 
"Semua aset ini bagus-bagus dengan lokasi-lokasi strategis yang premium tapi sayang selama ini tidak dikelola dengan manajemen yang baik sehingga tidak menjadi kekuatan yang besar," ujar Jokowi.
 
Baca: Jokowi Optimis Homestay Mandalika Akan Terisi Penuh Saat MotoGP
 
Ia berharap dengan lahirnya InJourney, pengelolaan wisata oleh perseroan harus jauh lebih baik. Strategi-strategi harus dijalankan secara terintegrasi mulai dari hulu sampai ke hilir.
 
"Mulai penataan rute penerbangan, konten promosi, event, atraksi, kuliner, akomodasi sampai ke penjualan retail-retail suvenir dari para perajin-perajin kita yang tentu saja juga sudah terseleksi dengan baik," jelas presiden.
 
Ia pun mewanti-wanti jangan sampai pola kinerja lama, sistem yang ruwet dan gerakan yang tidak gesit masih dipertahankan di tubuh holding.
 
"Jangan sampai justru muncul keribetan-keribetan baru, memindahkan persoalan-persoalan lama ke bentuk persoalan-persoalan baru. Kunci ini adalah membuat tata kelola menjadi lebih efisien dan lebih simpel dan sederhana," ungkapnya.
 
(NUR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif