Gerindra: Golkar, PKS, dan PPP Juga Memprotes Sikap Kiai Yahya

Whisnu Mardiansyah 13 Juni 2018 13:16 WIB
partai gerindrapalestina israel
Gerindra: Golkar, PKS, dan PPP Juga Memprotes Sikap Kiai Yahya
Ilustrasi--medcom.id
Jakarta: Mantan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Muhammad Nuruzzaman mengungkapkan alasan pengunduran dirinya. Dia kesal dengan Fadli Zon, karena dianggap menghina Kiai Haji Yahya Cholil Staquf. 

Partai Gerindra tegas membantah hal tersebut. "Pak Fadli enggak ada menghina kiai sama sekali," kata Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Andre Rosiade kepada Medcom.id, Rabu, 13 Juni 2018.
 
Andre mengatakan, tak hanya Gerindra yang memprotes sikap Kiai Yahya. "Ada Golkar, PKS, PPP itu juga mempertanyakan," terangnya.

Baca: Kesal Sikap Fadli Zon, Wasekjen Nuruzzaman Mundur dari Gerindra


Menurut Andre, wajar protes terus mengalir kepada kiai Yahya. Sebab, anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu menghadiri undangan Pemerintah Israel. 

Langkah itu dinilai tak sejalan dengan semangat pemerintah yang berjuang terhadap kemerdekaan Palestina. "Bang Fadli tidak mempolitisasi kedatangan Pak Yahya dengan menghubungkan ganti presiden. Isi pernyataan Nurzaman banyak yang hoaks, kalau mundur mundur saja jangan menebar fitnah," jelas Andre.

Meski dalam pengakuan kehadiran di Israel atas nama pribadi, kata Andre, tetap saja embel-embel sebagai pejabat negara tetap melekat. Kehadiran yang bersangkutan ke Israel pun mau tidak mau membawa nama Indonesia.

"Pak Yahya itu Wantimpres pejabat negara. Kita tahu hak protokolernya setara dengan menteri. Fadli mempertanyakan itu," jelasnya.

Baca: MUI: Kunjungan Gus Yahya Bisa Mencederai Komitmen Indonesia

Nuruzzaman menyatakan mundur dari kepengurusan partai. Ia kesal dengan Fadli Zon yang dianggap menghina KH Yahya Cholil Staquf saat memenuhi undangan ke Israel. 

Nuruzzaman menyatakan, sebagai santri, penghinaan terhadap kiai sudah berkaitan dengan harga diri dan marwah. Ia mengaku sudah berkirim surat kepada Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto. 

Baca: Kemenlu Palestina Kecam Kunjungan Gus Yahya ke Israel

Dalam surat kemunduran dirinya itu, Zaman juga mengutarakan unek-uneknya sejak menjadi kader Gerindra pada 2014.

"Partai Gerindra ternyata belok menjadi sebuah kendaraan kepentingan yang bukan lagi berkarakter pada kepedulian dan keberanian, tapi berubah menjadi mesin rapuh yang hanya mengejar kepentingan," ujar Zaman melalui keterangannya kepada Medcom.id, Selasa, 12 Juni 2018.

Kepergian Yahya Cholil Staquf ke Israel dipastikan bukan mewakili Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Hal itu ditegaskan Ketua Umum MUI Maruf Amin.

"Masalah Cholil (ke Israel) itu tidak ada kaitannya dengan MUI. Jangankan dengan MUI, dengan PBNU saja tidak ada kaitannya," kata Maruf di Kantor MUI, Jakarta Pusat, Selasa, 12 Juni 2018.

Maruf tak mendukung kepergian Gus Yahya ke Israel. Awak media justru diminta mengonfirmasi langsung alasan Gus Yahya pergi ke Israel. "Karena itu kami tidak memberikan, mendukung saudara Yahya Staquf (ke Israel). Untuk memperoleh penjelasan, silakan tanya saja kenapa dia melakukan itu," imbuhnya.

Kepergian Gus Yahya, kata Maruf, murni inisiatif pribadi. Namun kunjungan itu dinilai bakal mencederai komitmen Indonesia dalam mewujudkan perdamaian di Palestina.



(YDH)