JK Dinilai Berperan Penting di Pilpres 2019

Faisal Abdalla 30 Juni 2018 17:16 WIB
pilpres 2019pemilu serentak 2019
JK Dinilai Berperan Penting di Pilpres 2019
Direktur Pusat Studi Sosial Politik Indonesia Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun - MI/Ramdani.
Jakarta: Direktur Pusat Studi Sosial Politik Indonesia Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun menilai, Wakil Presiden Jusuf Kalla masih menjadi tokoh penting di Pemilu 2019. JK masih mempunyai pengaruh kuat mengubah peta politik 2019. 

"Pak JK ini tokoh yang sangat menentukan di detik-detik terakhir," kata Ubedilah dalam sebuah diskusi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 30 Juni 2018. 

Ubedilah menilai, JK tak perlu terjun langsung menjadi pemain di Pemilu 2019. Dia meyakini, JK akan berperan sebagai King Maker dalam pesta demokrasi lima tahunan tersebut. 


Dia menyebut, pengalaman JK menjabat sebagai Wakil Presiden dua kali membuat peran pria berusia 76 tahun itu tak bisa diremehkan. Terlebih, pria asal Makassar itu merupakan tokoh yang merepresentasikan Indonesia timur serta memiliki modal finansial yang cukup untuk memengaruhi kekuatan politik 2019. 

"Jadi siapa pun kandidat yang dekat dengan JK berpeluang memenangkan Pilpres 2019," tandas dia. 

(Baca juga: Sikap JK tak Pengaruhi Dukungan Golkar)

Sementara, terkait peluang JK maju sebagai capres, Ubedillah menyarankan, untuk kembali melihat peraturan perundang-undangan, "Apakah Capres dan Cawapres itu satu paket. Kalau satu paket beliau tetap tidak bisa maju. Tetapi kalau tidak satu paket, ya memungkinkan. Ini logika hukumnya harus dilihat," tandas dia. 

Partai Demokrat terus merayu Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk maju sebagai calon presiden mendampingi Ketua Komando Tugas Bersama (Kogasma) Agus Harimurti Yudhoyono. Namun, JK mengaku sulit maju sebagai calon presiden.

"Pertama butuh 20 persen (ambang batas presiden). Saya enggak punya partai," kata JK di Hotel Ayana Midplaza, Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis, 28 Juni 2018.

Ambang batas presiden yang mencapai 20 persen menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi calon untuk maju sebagai peserta pilpres. JK menilai sulit memenuhi aturan itu. 

Apalagi, saat ini, mantan ketua umum Golkar itu tak lagi bergabung dengan partai politik. Dia menyerahkan kesempatan maju kepada tokoh yang lebih muda. 

(Baca juga: Fadli Zon tak Yakin Koalisi JK-AHY Terwujud)







(REN)