PKS-PAN Terancam Sanksi Jika Mahar Sandi Terbukti
Anggota Bawaslu Fritz Edward. Foto: Medcom.id
Jakarta: Sejumlah organisasi masyarakat melaporkan bakal calon wakil presiden Sandiaga Uno ke Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) terkait dugaan mahar dari Sandi ke PAN dan PKS. Komisioner Bawaslu, Fritz Edward Siregar mengatakan partai politik jadi pihak yang paling berpeluang terancam sanksi jika dugaan mahar Sandi terbukti.

"Yang paling mungkin parpol tidak bisa mencalonkan di pemilu berikutnya," kata Fritz ditemui di Gedung Bawaslu RI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa, 14 Agustus 2018.

Fritz menyatakan sanksi mengacu Undang-undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu. Pasal 228 ayat (2) aturan itu menyatakan jika partai politik terbukti menerima imbalan dalam proses pencalonan presiden dan wakil presiden maka dilarang mengajukan calon pada periode berikutnya.


Sementara itu, dalam Pasal 228 ayat (4) tercantum larangan setiap orang atau lembaga memberikan imbalan kepada parpol dalam proses pencalonan presiden dan wakil presiden. Namun, UU itu tidak mengatur sanksi pidana bagi pihak yang melanggar. Dengan begitu, kata Frits, tidak ada ancaman pidana yang bisa dikenakan kepada si pemberi imbalan.

"Kalau menurut undang-undang 7 itu tidak ada sanksi pidana yang diatur terkait pemberian imbalan pada Pasal 228," jelas Fritz.

Tapi, kata Fritz, tak menutup kemungkinan pihak pemberi mahar bisa dijerat dengan undang-undang lain. Namun, itu sudah di luar dari kewenangan Bawaslu.

"Tetapi kita lihat apakah ada pasal lain, dan itu bukan kewenangan Bawaslu tetapi kewenangan lembaga lain. Sekali lagi ini harus mengacu klarifikasi yang dilakukan bawaslu apakah hanya sekedar Pasal 228 ataukah melebar, maka itu diserahkan kepada pihak lain" beber Fritz.

Sementara ini, Fritz mengatakan Bawaslu fokus dulu memastikan benar tidaknya dugaan mahar Sandi terkait pencalonan capres dan cawapres. Pembuktian ini menunggu hasil klarifikasi pihak-pihak yang akan dipanggil Bawaslu. "Kita akan panggil (pihak-pihak) yang kami anggap tahu," ujarnya.



(AGA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id