Anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Ida Budhiati (tengah). Foto: Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto
Anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Ida Budhiati (tengah). Foto: Medcom.id/Theofilus Ifan Sucipto

Komisioner KPU Dianggap Lalai Mengingatkan Wahyu Setiawan

Nasional pdip OTT KPK
Theofilus Ifan Sucipto • 16 Januari 2020 18:29
Jakarta: Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman diminta lebih tegas mengingatkan anggotanya soal pertemuan eksternal. Itu buat menjamin netralitas dan objektivitas anggota.
 
"Ketua dan anggota lainnya tidak mengingatkan tindakan teradu (eks Komisioner KPU Wahyu Setiawan)," kata anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Ida Budhiati di Gedung DKPP, Jakarta Pusat, Kamis, 16 Januari 2020.
 
Ida menjelaskan Peraturan DKPP Nomor 2 Tahun 2017 tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku Penyelenggara Pemilu tegas mengatur soal pertemuan dengan eksternal. Peraturan KPU juga tegas soal itu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ida menegaskan anggota KPU tidak boleh bertemu peserta pemilu maupun tim kampanye di luar kantor sekretariat jenderal KPU. "Tapi tidak berjalan dengan baik sehingga teradu bebas melakukan pertemuan di luar kantor," ujar Ida.
 
Ida mengingatkan Arief mengefektifkan sistem pengendalian internal. Hal tersebut tertuang dalam Peraturan DKPP dan Peraturan KPU (PKPU) Nomor 8 Tahun 2019 tentang Tata Kerja Komisi Pemilihan Umum, Komisi Pemilihan Umum Provinsi, dan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten/Kota.
 
Arief keberatan dengan pernyataan Ida. Wahyu mengaku tak pernah memberi kabar pada koleganya ihwal bertemu pihak luar.
 
"Lho, mengingatkan gimana? Kan enggak pernah bicara sama kita, gimana cara saya mengingatkan?" ucap Arief.
 
Wahyu Setiawan mengaku dekat dengan staf Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Saeful dan mantan anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Agustiani Tio Fridelina.Tio dan Saeful kerap mengajak bertemu di luar kantor membahas penggantian antarwaktu (PAW) calon anggota legislatif PDI Perjuangan Harun Masiku.
 
Wahyu mengaku kerap menolak tawaran itu. Namun, Wahyu mengaku sulit membedakan hubungan antara kawan dekat dan pekerjaan dengan keduanya.
 
"Saya teman lama Bu Tio, orang yang saya hormati, dan saya anggap kakak saya sendiri. Jadi saya sangat sulit situasinya," kata Wahyu dalam sidang etik Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) di Gedung KPK, Setiabudi, Jakarta Selatan, Rabu, 15 Januari 2020.
 
KPK menangkap tangan Wahyu Setiawan pada Rabu, 8 Januari 2020. Dia diduga menerima suap untuk mengupayakan PAW calon caleg PDI Perjuangan Daerah Dapil Sumatra Selatan 1 Harun Masiku.
 
KPK menyita uang Rp400 juta dalam pecahan mata uang dolar Singapura saat operasi tangkap tangan (OTT) di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. Wahyu sebelumnya diduga menerima suap Rp200 juta.
 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif