Massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Bandung Raya melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat. (Foto: ANTARA/Novrian Arbi)
Massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Bandung Raya melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat. (Foto: ANTARA/Novrian Arbi)

Kaleidoskop 2018: Hoaks Ratna Sarumpaet dan Tahun Politik

Nasional pilpres 2019 hoax
03 Januari 2019 13:00
Jakarta: Tahun 2018 bisa dikatakan sebagai tahun yang cukup berat bagi Indonesia. Peredaran hoaks yang begitu masif jelang tahun politik hingga bencana alam di sejumlah wilayah di Indonesia cukup menguras tenaga semua elemen masyarakat.
 
Masih lekat dalam ingatan ketika Ratna Sarumpaet menggaungkan hoaks penganiayaan yang dialaminya di media sosial. Lini masa media sosial hingga media massa arus utama gempar atas informasi yang disebut-sebut sarat muatan politik itu.
 
"Hoaks sepertinya tidak hanya untuk mencari sensasi dan mencari untung, tetapi digunakan juga untuk memukul lawan politik," ujar Jurnalis Senior Metro TV Don Bosco Selamun dalam Catatan Akhir Tahun 2018, Rabu, 2 Januari 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tak dimungkiri kebohongan atas penganiayaan Ratna membuat petinggi partai, bahkan calon presiden sekelas Prabowo Subianto, berang dan mendesak polisi segera menangkap pelaku penganiayaan. Mantan danjen Kopassus itu bahkan menganggap penganiayaan terhadap Ratna sebagai tindakan represif, pelanggaran hak asasi manusia, dan sarat muatan politis.
 
Situasi berbalik ketika akhirnya Ratna mengakhiri drama penganiayaan itu dengan sebuah pengakuan bahwa dia tidak dianiaya. Terbukti, Ratna hanya menjalani prosedur pembedahan sekitar wajah. Semakin heboh ketika Ratna menyatakan dirinya sebagi pencipta hoaks terbaik.
 
Lain Ratna lain pula La Nyalla Mattaliti. Mantan Ketua Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia mengaku pernah terlibat dalam penyebaran tabloid Obor Rakyat yang memanas pada Pilpres 2014. Pengakuannya, ia salah satu orang yang memviralkan Jokowi sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).
 
"Tapi saya sudah meminta maaf karena saat itu wajar (saya) oposisi apa saja 'dihajar'. Kalau gelap mata enggak ada urusan, seperti saya tidak mendukung Jokowi bagaimana pun salahnya Prabowo saya tutupi semua. Tapi karena sekarang saya bukan oposisi, saya tobat," ungkapnya dalam sebuah wawancara.
 
Merujuk data yang pernah dipublikasikan Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia, hoaks di media sosial mulai tampak sejak pemilu 2014. Setiap tahunnya terus meningkat.
 
Pada 2015 tercatat 61 informasi di media sosial adalah hoaks. Tahun 2016 sebanyak 330 teridentifikasi. Kemudian pada 2017 meningkat lebih dari dua kali lipat, yakni sebanyak 710 hoaks yang berhasil diverifikasi. Dan tahun lalu, hingga September 2018, hoaks teridentifikasi mencapai 844 informasi.
 
Direktur Informasi dan Komunikasi Badan Intelijen Negara Wawan Purwanto mengatakan 60 persen konten media sosial di Indonesia adalah informasi bohong. Semakin memprihatinkan karena tak sedikit pengguna media sosial memercayainya tanpa melakukan verifikasi.
 
Hoaks terjadi karena minimnya rasionalitas dan buruknya literasi publik dalam mengakses konten di media sosial. Akibatnya ketajaman berpikir dan nalar mati saat menghadapi kabar bohong.
 
Hal ini selaras dengan survei Dailysocial.id yang menyebutkan lebih dari 44 persen pengguna media sosial tidak bisa membedakan hoaks dengan fakta. Sedangkan 31 persen lainnya kesulitan membandingkan berita bohong dan kebenaran. Artinya, lebih dari 75 persen orang di Indonesia rentan terpapar hoaks. Lebih lanjut 81 persen hoaks beredar melalui Facebook dan 56 persen tersebar di jejaring Whatsapp.
 
Ironisnya, penelitan We Are Social 2018 menyebutkan 49 persen penduduk Indonesia adalah pengguna media sosial.Tingkat pertumbuhannya pun signifikan, yakni 23 persen atau sekitar 24 juta pengguna setiap tahunnya. Alhasil, Indonesia menduduki peringkat ketiga pertumbuhan pengguna media sosial tercepat di dunia setelah Arab Saudi dan India.
 
"Jika media arus utama dianggap tidak memadai, jika pemimpin dan tokoh masyarakat belum mampu meyakinkan Anda, ini saat terbaik bagi Anda memelihara akal sehat untuk menemukan kebenaran yang tercecer," kata Don Bosco.
 

 

(MEL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi