Massa aksi penolak UU Ciptaker saat bentrok dengan kepolisian. Medcom.id/Muhammad Syawaluddin.
Massa aksi penolak UU Ciptaker saat bentrok dengan kepolisian. Medcom.id/Muhammad Syawaluddin.

Gejolak Pedemo Jadi Panggung Politik Kepala Daerah

Nasional Omnibus Law Demo Tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja
Anggi Tondi Martaon • 09 Oktober 2020 16:31
Jakarta: Beberapa kepala daerah menemui pedemo tolak Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker). Langkah tersebut dinilai memiliki dua maksud tertentu.
 
Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, mengatakan maksud pertama, yakni mencari panggung. Terlebih, kepala daerah yang menemui pedemo digadang-gadang sebagai calon presiden (Capres) 2024, yakni Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
 
"Ini kan biasa, namanya politisi. Sambil menyelam minum air," kata Ujang kepada Medcom.id, Jumat, 9 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia menilai wajar kalau politikus melakukan hal tersebut. Tidak ada larangan untuk cari panggung di tengah tuntutan rakyat yang begitu besar terhadap penolakan UU Cipta Kerja.
 
"Secara politik sah-sah saja (cari panggung)," kata dia.
 
Baca: Ini Alasan Polisi Bertindak Bengis pada Jurnalis Saat Demo UU Ciptaker
 
Namun, upaya tersebut dianggap biasa saja jika hanya meneruskan aspirasi dengan mengirim surat ke pemerintah pusat. Upaya cari panggung akan lebih dahsyat jika para kepala daerah tersebut menyatakan pendapat pribadi menolak UU Cipta Kerja.
 
"Artinya Gubernur memiliki keberanian terhadap pemerintah pusat," sebut dia.
 
Selain mencari panggung, makna kedua yang terlihat saat kepala daerah menemui pedemo untuk mendinginkan gejolak protes. Sebab, demonstrasi di sejumlah daerah berakhir ricuh.
 
Ujang menyebut langkah Anies dan Ridwan Kamil terbukti berefek terhadap amarah pedemo. Tensi di lapangan langsung turun usai kedua kepala daerah itu menyerap aspirasi pedemo.
 
"Memang jalan cepat meredakan situasi seperti itu," sebut dia.
 
Sikap berbeda justru ditunjukkan oleh pemimpin negara Indonesia Joko Widodo (Jokowi) dan Maruf Amin. Kedua sosok sentral di republik ini justru diam seribu bahasa menyikapi demo yang sudah berlangsung berhari-hari tersebut dan akhirnya anarkis pada Kami, 8 Oktober 2020.
 
"Harusnya, (Jokowi dan Maruf) mengambil sikap kenegarawanan," ujar dia.
 
(JMS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif