Warga melintas di dekat gambar mural Capres Joko Widodo dan Prabowo Subianto di Jalan Juanda, Depok, Jawa Barat. (Foto: MI/Bary Fathahillah)
Warga melintas di dekat gambar mural Capres Joko Widodo dan Prabowo Subianto di Jalan Juanda, Depok, Jawa Barat. (Foto: MI/Bary Fathahillah)

Narasi 'Indonesia Punah' seperti Peluru Kosong

Nasional pilpres 2019
19 Desember 2018 11:36
Jakarta: Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto melontarkan narasi Indonesia punah apabila dia tidak terpilih dalam Pilpres 2019. Pakar Komunikasi Politik Karim Suryadi menilai apa yang disampaikan Prabowo tak memiliki konteks.
 
"Dalam konteks komunikasi seperti menggunakan peluru kosong," ujarnya dalam Editorial Media Indonesia, Rabu, 19 Desember 2018.
 
Karim mengatakan bicara negara punah secara teori menunjukkan perkembangan sebuah bangsa tidak sama dengan individu. Berbeda dengan individu, sebuah bangsa bisa saja mengalami tragedi pada satu fase namun tak menutup kemungkinan terjadi lonjakan di fase lain.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Inggris misalnya, Karim menyebut bangsa lain pernah memprediksi Inggris tidak akan pernah berkembang. Namun setelah negara tersebut menemukan mesin uap, Inggris melejit menjadi bangsa yang terhormat.
 
"Ini artinya perkembangan bangsa tidak bergantung pada satu orang, satu momen, atau satu peristiwa tetapi banyak faktor lain yang menentukan," kata dia.
 
Menurut Karim gaya Prabowo yang menyebut Indonesia punah jika dia tidak terpilih belum sempurna. Pasalnya, gaya hiperbola semacam itu tidak disertai dengan pelengkap yang menyertakan betapa logis pernyataan tersebut.
 
Budaya komunikasi Indonesia dengan konteks yang tinggi membuat narasi Indonesia punah tidak pernah terlekat pada apa yang diucapkan. Melainkan lebih banyak disandarkan pada konteks ruang, tempat, dan waktu dimana kata-kata itu disampaikan.
 
"Alih-alih memberikan penegasan dan keyakinan, efek subliminalnya jauh lebih besar. Artinya hal-hal yang tidak diinginkan oleh pembicara akan jauh lebih besar efeknya dari apa yang dimaksudkan sesungguhnya karena ketiadaan konteks," pungkasnya.
 

 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif