Sri Mulyani Dinilai tak Cocok Dampingi Jokowi
Presiden Joko Widodo berjabat tangan dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani usai menyampaikan keterangan pers pada malam penutupan Tax Amnesty Periode I. MI/ Atet Dwi
Jakarta: Direktur Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Eny Sri Hartati menilai Sri Mulyani Indrawati tidak cocok disandingkan sebagai cawapres pendamping Joko Widodo dalam Pilpres 2018.

Eny mengatakan sosok cawapres Jokowi harus yang memahami problem ekonomi. Dia bilang Jokowi membutuhkan orang dengan visi ekonomi kerakyatan sebagai pendamping yang paham bagaimana membenahi struktur ekonomi ala Indonesia. Sayangnya Sri Mulyani bersebrangan dengan konsep ekonomi kerakyatan.

"Orang yang strukturalis, dan bukan yang selalu berorientasi pada pasar dan jelas bukan Sri Mulyani," kata Eny di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat, 20 Juli 2018.


Eny mengingatkan agar jangan terpaku oleh figur terkenal. Ia mengkomparasikan peran Wapres Jusuf Kalla (JK) saat kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saat itu, perekonomian bisa dibilang lebih maju dibandingkan ketika SBY didampingi Budiono. Sekarang JK kembali menjadi wakil presiden namun perekonomian Indonesia stagnan.

"Artinya, faktor yang paling menentukan, secara team work (kabinet bidang) ekonomi. Bagi masyarakat, bukan cawapresnya, tapi tim ekonomi," kata dia.

Saat ini ia melihat tim ekonomi di kabinet kerja masih mementingkan ego sektoral. Sehingga kinerjanya pun tidak optimal. Sehingga menurut dia posisi cawapres juga harus bisa menjadi koordinator dari tim ekonomi. 

Namun untuk memilih sosok yang pas, Eny menyebut cawapres tak harus dari ekonom. Sebab belum tentu mereka paham mengenai eksekusi. 

"Enggak sekedar pengetahuan, tapi kemampuan dia untuk eksekusi. Kalau enggak punya power eksekusi ya percuma," tandas Eny.




(SCI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id