Pemuka Agama Tuntut Pemilu 2019 Bebas Hoaks
Pemuka agama menyampaikan pernyataan terkait Pemilu 2019. Foto: Medcom.id/M Al Hasan.
Jakarta: Pemuka lintas agama mendorong pihak terkait menjaga kesucian Pemilu 2019. Pesta demokrasi lita tahunan harus bersih dari hoaks, politisasi agama, dan ujaran kebencian.

Para pemuka agama mengeluhkan isu agama dan politik identitas yang terus disulut untuk kepentingan kekuasaan. Isu itu terus dipanaskan di media sosial. 

"Di media sosial bisa terlihat suasana berkebangsaan, komunikasi antarkita, dipenuhi dengan pertentangan, saling mengenyahkan," kata Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban Din Syamsuddin di Kantor Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), Jakarta, Selasa, 10 Juli 2018.


Menurut dia, politik identitas kelompok secara ekstrem terus menghiasi jagat dunia maya. Bila dibiarkan, hal ini dikhawatirkan menimbulkan perpecahan.

Din, bersama para pemuka agama, menekankan benih permusuhan tak bisa diabaikan. Publik diminta mengubah hubungan sesama yang bersifat dialektika penuh pertentangan menjadi dialogis.

"Yakni cenderung memusyawarahkan perbedaan pandangan politik dengan penuh rasa persaudaraan demi keutuhan dan kemajuan bangsa," jelas dia.

Perbedaan pandangan politik tidak boleh memutuskan silaturahmi kebangsaan. Demokrasi beradab pun harus diutamakan dalam memilih pemimpin.

Di sisi lain, politik identitas masih sah selama tidak menghina kelompok lain hingga menimbulkan sektarianisme politik ekstrem. Namun, lebih baik, perjuangan politik mengutamakan kepentingan bangsa bersama-sama.

Baca: Bawaslu Sosialisasikan Pakta Integritas ke Demokrat

"Dalam mengamalkan demokrasi, tetap dapat menampilkan aspirasi dalam semangat berlomba dalam kebaikan dan keadaban. Terlalu mahal harga yang harus dibayar bangsa jika demokrasi membawa tragedi," tegas Din.

Perwakilan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Romo Agus Ulahayanan menambahkan para calon legislator dan calon presiden serta wakil harus memberikan contoh berpolitik yang baik dan bermartabat. Pemilu jangan dikotori dengan nilai yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa. 

Dia mengingatkan pemilu adalah ajang mencari calon pemimpin dan wakil terbaik bangsa lewat kualitas diri. Proses ini bukan arena untuk menjungkalkan satu sama lain.

"Artinya, itu dilaksanakan sesuai dengan nilai-nilai yang dianut bangsa ini. Itu kurang lebih ada tiga macam nilai, nilai adat, keagamaan, dan kenegaraan," tutur Agus.






(OGI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id