Pendiri lembaga survei dan konsultan politik Cyrus Network, Hasan Nasbi . Istimewa
Pendiri lembaga survei dan konsultan politik Cyrus Network, Hasan Nasbi . Istimewa

Habisnya Masa Jabatan dan Koalisi Lebih Awal akan Ubah Peta Elektabilitas Capres

Nasional pemilu capres Prabowo Subianto Pilpres Anies Baswedan Ganjar Pranowo
Al Abrar • 05 Desember 2021 20:56
Jakarta: Pendiri lembaga survei dan konsultan politik Cyrus Network, Hasan Nasbi menilai akan terjadi perubahan peta dukungan publik terhadap figur capres 2024. Perubahan itu yakni habisnya masa jabatan beberapa kepala daerah dan koalisi partai yang dilakukan lebih awal sehingga memunculkan calon lebih awal. 
 
Hasan menyebut, hasil survei dari lembaga-lembaga yang kredibel selalu menempatkan tiga nama teratas, Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, dan Anies Baswedan. Ketiga nama itu sudah muncul dalam berbagai survei pasca Pilpres 2019. Bedanya adalah posisi nomor dua yang sempat ditempati Anies Baswedan kini diambil Ganjar Pranowo.
 
Menurut Hasan, tiga nama tersebut adalah pewaris dukungan Prabowo dan Jokowi di 2019. " Prabowo itu Old Soldier, veteran pilpres yang nggak ngapa-ngapain saja punya pendukung tetap sekitar 25 persen," ujar Hasan. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ganjar Pranowo dianggap mewarisi sebagian pemilih Jokowi. Golongan yang 'anti kadrun' dan sering menggunakan narasi kebhinekaan dan Pancasila harga mati.
 
Baca: Survei: Ganjar Pranowo Tempel Ketat Prabowo Subianto
 
Sedangkan Anies Baswedan dianggap mewarisi mantan pendukung Prabowo, yang banyak menggunakan narasi agama, dan dulu mendukung Prabowo karena anti dengan Jokowi. 
 
"Mereka ini melihat Anies Baswedan sebagai cantelan baru. Jumlahnya bisa mencapai sekitar 15 persen. Sisanya ada yang kebagian warisan sedikit-sedikit itu AHY, Sandiaga Uno," imbuh Hasan.
 
Dukungan pada tiga nama teratas itu menurutnya lebih karena keyakinan dan bukan persepsi rasional. 
 
Dua hal yang menurut Hasan dapat mengubah adalah tokoh-tokoh yang habis masa jabatannya. Diketahui bahwa Anies Baswedan akan habis masa jabatannya pada 2022, dan Ganjar Pranowo pada 2023.
 
"Itu efeknya bisa luas. Karena enggak punya jabatan itu jangankan dengan partai dengan teman sendiri aja susah," kata Hasan sembari mencontohkan Gatot Nurmantyo yang sempat tinggi angka surveinya kini makin meredup. 
 
Konteks kedua yang dapat mengubahnya adalah koalisi lebih awal antar partai politik dan penentuan calon lebih awal. Sebab, hingga saat ini masyarakat tidak tahu siapa yang benar-benar punya tiket untuk maju. Apalagi adanya anggapan bahwa mendeklarasikan diri jauh-jauh hari itu buruk.
 
Dari perolehan suara partai, ada tiga partai yang potensial untuk memajukan calon. PDIP yang bisa memajukan calon sendiri, atau Gerindra dan Golkar yang hanya membutuhkan satu partai tambahan.
 
"Ini dua hal yang bisa mengubah peta survei. Kalau sudah dibungkus saya yakin orang akan melihat ooh ini yang sudah punya tiket," ujar Hasan.
 
Namun elit politik kerap menginginkan calon ditentukan di akhir-akhir. " Karena di akhir makin tinggi harga negonya. Padahal publik menginginkan jauh-jauh hari," ujarnya.
 
(ALB)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif