Ilustrasi/Metrotvnews.com-M Rizal
Ilustrasi/Metrotvnews.com-M Rizal

BIN Optimalkan Big Data Antisipasi Hoaks

Nasional kejahatan cyber hoax
31 Januari 2018 12:53
Bandung: Badan Intelijen Negara (BIN) akan mengoptimalkan big data untuk mengantisipasi sejumlah ancaman yang berkembang di era digital. Analisis terhadap big data disebut merupakan kunci mengantisipasi maraknya berita bohong atau hoaks.
 
"Pembangunan intuisi melalui big data analysis, early warning system, dan intelligent forecasting akan dilakukan untuk meningkatkan performa BIN sebagai mata dan telinga negara," kata Kepala BIN, Jenderal Polisi (Purn) Budi Gunawan, saat memberikan kuliah umum stadium general di Gedung Aula Timur Kampus Ganesha Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat, seperti dilansir Antara, Rabu, 31 Januari 2018.
 
Budi mengatakan saat ini BIN tengah bertransformasi untuk menciptakan intelijen yang andal dan modern. "Agar BIN juga mampu lebih cepat memberikan peringatan terhadap segala potensi ancaman yang akan terjadi," katanya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Salah satu yang dilakukan untuk menuju ke sana adalah bekerja sama dengan ITB. Kerja sama ini, kata dia, untuk memperkuat teknologi intelijen. Budi berharap kerja sama dengan ITB bisa membantu BIN membangun platform dan infrastruktur intelijen digital.
 
Rektor ITB Kadarsah Suryadi mengatakan ITB memiliki produk untuk menganalisis big data, yakni Kazee Intelligent. Ia mengklaim produk ini unggul dalam memprediksi adanya potensi ancaman.
 
"Produk ini mampu memprediksi adanya potensi ancaman yang muncul akibat dinamika sosial, budaya, ekonomi, hingga politik. Bahkan, aktor peredar berita hoaks juga bisa teridentifikasi," katanya.
 
Baca: BIN Gandeng ITB Antisipasi Cyber War
 
BIN bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk meningkatkan teknologi intelijen, Rabu, 31 Januari 2018. Peningkatan teknologi intelijen mendesak dilakukan untuk mengantisipasi perang siber atau cyber war.
 
Kerja sama ini diikat dalam penandatangan nota kesepahaman (MoU) dan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS). "Dari dua dokumen kerja sama itu ada 26 topik riset inovasi untuk mendukung teknologi intelijen BIN," kata Kadarsah.
 
Di antaranya, teknologi telekomunikasi, sensor biologi, dan advanced material technology. Di dokumen PKS memuat kolaborasi yang fokus mengembangkan 18 produk dan riset inovasi dalam bidang teknologi intelijen siber, seperti threat detection dan cyber forensic.
 
Khusus PKS di bidang pengembangan sumber daya manusia terdapat delapan jenis pelatihan, di antaranya, pelatihan teknologi siber, organisasi, dan analisis big data.
 

 

(UWA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif