WWF-Indonesia berkunjung ke Media Group. Foto: Medcom.id/Yogi Bayu Aji.
WWF-Indonesia berkunjung ke Media Group. Foto: Medcom.id/Yogi Bayu Aji.

WWF-Media Group Berkolaborasi Menggemakan Konservasi

Nasional lingkungan hidup
Yogi Bayu Aji • 15 Januari 2019 20:32
Jakarta: Organisasi nirlaba World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia menyambangi Media Group. WWF mengajak Media Group bekerja sama mengangkat isu konservasi lingkungan.
 
"Media adalah sekutu," kata CEO WWF-Indonesia Rizal Malik di Gedung Metro TV, Kedoya, Jakarta Barat, Selasa, 15 Januari 2019.
 
Menurut dia, Media Group, dengan Metro TV dan Media Indonesia yang ada di bawahnya, adalah kawan yang sudah lama berjuang dalam mengangkat isu lingkungan. Dia ingin hubungan ini terjaga.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rizal pun memaparkan perjalanan WWF selama di Tanah Air. WWF menginjakan kaki di Indonesia sejak 1962. Kala itu, WWF fokus pada badak Jawa di Ujung Kulon, Banten.
 
Mulai 1970, pihaknya mulai fokus terhadap lingkungan hidup di luar Pulau Jawa. WWF pun semakin betah di Tanah Air dengan berdiri sebagai WWF-Indonesia per 1998.
 
Rizal mengaku bukan hal yang mudah untuk menjaga lingkungan di Indonesia. Perlu kerja keras dan waktu yang tak sedikit.
 
Dia mencontohkan konservasi Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah. Sekitar 16 tahun yang lalu lokasi itu adalah bekas lahan yang dimanfaatkan dengan hak pengusahaan hutan (HPH).
 
"Lokasi itu tempat ramin tumbuh. Kami kerja sama dengan kementerian mulai mengairi lahan gambut. Sekarang sudah jadi ekosistem gambut. Dari tadinya enggak ada orang utan, jadi ada 8 ribu orang utan," ungkap itu.
 
Selain itu, pihaknya juga terlibat dalam pengelolaan di taman nasinonal di Nusa Tenggara Timur (NTT). WWF-Indonesia fokus pada pengelolaan sampah di Labuan Bajo, Komodo, Manggarai Barat, NTT.
 
Langkah yang diambil dengan melarang turis membuang sampah di taman nasional. WWF-Indonesia mendorong agar sampah itu diolah menjadi produk yang bisa dijual kepada turis.
 
"Kami kerja sama biar bisa dijadikan kaus. Sekarang (sampah) masih harus dikirim ke Cina untuk jadi benang, sedang cari cara biar diolah di Bali dijual di Labuan Bajo," jelas dia.
 
Rizal menyebut masih banyak hal lain yang digarap pihaknya, mulai dari kampanye hiu hingga kampanye harimau. Dia pun menganggap perlu mengajak lebih jauh media terlibat dalam menggemakan isu-isu ini.
 
Baca: Menteri LHK Usung Gerakan Nasional Pemulihan Sungai
 
Pemimpin Redaksi Metro TV Don Bosco Selamun menyambut hangat ajakan WWF-Indonesia. Dia mengaku selama ini pihaknya membuka tangan lebar-lebar untuk mengangkat isu lingkungan.
 
"Undangan WWF ke lokasi (area konservasi) enggak akan ditolak. Visualnya pasti baik," jelas dia.
 
Menurut dia, saat ini, publik juga semakin risau dengan isu lingkungan hidup. Dia pun setuju bila kesadaran masyarajat atas isu ini harus terus digelorakan.
 
Direktur Konservasi WWF-Indonesia Lukas Laksono Adhyakso menyebut tantangan dalam isu lingkungan memang semakin berat. Pasalnya, pada 2050 penduduk dunia diprediksi mencapai 9,8 miliar.
 
Isu kehidupan manusia hingga persoalan makanan pun perlu diangkat. "Ini perlu dipromosikan agar lebih lestari kita masih coba berbagai aspek untuk promosikan," kata Lukas.
 

 

(OGI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi