Kebohongan Ratna Sarumpaet Tragedi Demokrasi
Massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Bandung Raya melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat. (Foto: ANTARA/Novrian Arbi)
Jakarta: Politikus Partai Golkar Nusron Wahid menyebut kebohongan Ratna Sarumpaet merupakan tragedi demokrasi. Bukan hanya melibatkan Ratna pribadi namun juga elite politik yang berseberangan dengan pemerintah.

"Saya jujur kasihan dengan Ratna Sarumpaet. Satu hari sebelumnya dipuja, dibela, tapi satu hari  setelahnya seperti sampah yang dibuang begitu saja oleh oposisi. Seperti tidak ada artinya," ujarnya dalam Opini Dua Sisi Metro TV, Senin, 8 Oktober 2018.

Nusron mengaku merekam semua jejak digital di media daring maupun cetak terkait kasus dugaan penganiayaan Ratna. Di awal Oktober, hampir semua elite politik oposisi menyudutkan aparat keamanan yang dituding tak mampu melindungi warga negaranya.


Jejak digital menunjukkan ada sekitar 453 berita dan artikel tentang dugaan penganiayaan Ratna dan reaksi dari elite oposan. Namun sehari kemudian elite oposan seakan cuci tangan.

"Belum 24 jam bahkan Ratna dibuang, dituduh PKI, pembohong, penyusup, dan sebagainya. Soal Ratna ini satu hal urusan dia dengan polisi yang jadi persoalan ini tragedi demokrasi, tragedi ketika kita sedang mencari pemimpin nasional," ungkapnya.

Tak cuma elite politik, Nusron bahkan tak habis pikir dengan pernyataan calon presiden Prabowo Subianto yang begitu tendensius membela namun kemudian mengaku merasa dibohongi setelah Ratna memberi klarifikasi. 

Sebagai salah satu tokoh nasional, kata Nusron, semestinya Prabowo tak terkecuali para oposan mengeluarkan pernyataan berbasis data yang berintegritas dan kredibel.

Elite politik kontra pemerintah menurut Nusron seharusnya malu menggunakan Ratna sebagai alat untuk menyerang pemerintah bahkan menyudutkan kepolisian apalagi menggunakan data dan informasi tidak valid.

"Jangan-jangan data yang digunakan untuk mengangkat angka pengangguran itu tinggi, tenaga kerja asing tinggi, sampai harga kebutuhan melonjak yang disampaikan tokoh-tokoh itu informasinya bohong, tidak valid," jelas dia. 





(MEL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id