Presiden Joko Widodo bersama dengan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartanto (kiri). Foto: MI/Mohamad Irfan.
Presiden Joko Widodo bersama dengan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartanto (kiri). Foto: MI/Mohamad Irfan.

Pengamat: Jokowi Jangan Dibawa ke Persaingan Ketum Golkar

Nasional partai golkar presiden jokowi
Achmad Zulfikar Fazli • 21 November 2019 03:21
Jakarta: Berbagai pihak diminta jangan membawa Presiden Joko Widodo dalam persaingan calon ketua umum Partai Golkar. Upaya itu dianggap mengecilkan Jokowi selaku Kepala Negara.
 
"Saya kira jangan kita menciptakan wacana yang mengerdilkan Jokowi yang mana hari ini sebagai Presiden Indonesia. Apalagi ada menggunakan istilah-istilah Istana," ujar peneliti Parameter Research Consultant, Edison Lapalelo, Rabu, 20 November 2019.
 
Menurut dia, Jokowi memiliki kedekatan yang baik dengan masing-masing kandidat calon ketua umum Golkar, yakni Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo (Bamsoet).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kader Golkar, terang dia, juga harus memberikan pelajaran politik yang baik kepada masyarakat. Jokowi jangan diopinikan telah mengintervensi Golkar.
 
"Karena mengkredilkan Jokowi sebagai pembina partai politik, kader PDIP, serta berdampak terhadap dinamika politik di Partai Golkar. Yakni aklamasi atau demokrasi," terang dia.
 
Di sisi lain, dia mengingatkan Airlangga agar betul-betul mengonsolidasikan partainya, baik di internal maupun eksternal. Sebab, itu merupakan tanggung jawab Airlangga sebagai ketua umum Golkar.
 
Dia juga menilai Airlangga sudah cukup sukses dalam memimpin Golkar. Kesuksesan ini juga tak lepas dari soliditas kadernya.
 
"Sehingga (Airlangga) saya rasa layak kembali memimpin Partai Golkar, tetapi sepenuhnya hak ini dikembalikan kepada DPD I dan DPD II sebagai peserta munas dan memiliki hak suara dalam menentuan siapa yang layak, dan masih ada kader-kader Partai Golkar lain yang dianggap DPD I dan DPD II Partai Golkar yang layak untuk menjadi ketua umum Partai Golkar berikutnya," ujar dia.
 
Dia pun enggan menerka kekuatan Airlangga yang diprediksi bertarung dengan Bamsoet di Munas Golkar. Sebab, keputusan itu ada di tangan DPD I dan DPD II Golkar.
 
"Tetapi menurut pengamatan saya, Bapak Airlangga Hartarto dan Bapak Bambang Soesatyo memiki peluang yang sama dikarenakan masing-masing mempunyai posisi yang strategis dalam tata kelola pemerintahan yang berdampak pada berpolitikan nasional," ujar dia.
 

(HUS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif