Kapolres Bantul, AKBP Ihsan menunjukkan barang bukti kasus aborsi ilegal. Medcom.id/Mustaqim
Kapolres Bantul, AKBP Ihsan menunjukkan barang bukti kasus aborsi ilegal. Medcom.id/Mustaqim

Pesan Obat Online, 2 Wanita di Bantul Aborsi Kandungan

Ahmad Mustaqim • 16 Februari 2022 17:23
Bantul: Dua pelajar di Kabupaten Bantul AU, 21 dan ASF, 18, ditetapkan tersangka usai melakukan aborsi. Keduanya aborsi usai memesan obat-obatan secara daring atau online dan dalam waktu berbeda.
 
Obat-obatan itu dibeli dengam harga sekitar Rp198 ribu. "Dua orang ini aborsi di lokasi berbeda tapi sama-sama tidak sesuai ketentuan," kata Kapolres Bantul, AKBP Ihsan di Mapolres Bantul, Rabu, 16 Februari 2022. 
 
AU yang berstatus mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta diketahui melakukan aborsi pada 22 Januari 2022, pukul 20.00 WIB. AU menggugurkan kandungannya yang masih berusia 5 bulan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Proses aborsi dilakukan dengan mengonsumsi obat-obatan secara berlebih. Total ada 16 butir pil yang dikonsumsi kurang dari 24 jam. 
 
"Pukul 23.00 atau 3 jam setelah kejadian, diamankan terduga pelaku atau ibu bayi di salah satu kos di (Kecamatan) Kasihan. Kondisinya lemah karena habis melahirkan," kata Ihsan. 
 
Baca: Bejat! Ayah di Tangerang Rudapaksa Anak Kandungnya Hingga Hamil
 
Polisi cepat melacak AU usai ia membuang orok di serambi salah satu masjid di Kecamatan Kasihan. AU juga menyertakan surat wasiat disertai nomor telepon. 
 
Usai penangkapan, polisi membawa AU ke RS PKU Muhammdiyah untuk dirawat. Di sisi lain, polisi menyita sejumlah barang bukti. 
 
"Kami amankan barang bukti, termasuk bekas bungkus obat yang dikonsumsi saat aborsi. Pelaku mengakui dan ditetapkan jadi tersangka. Alamat asal AU Kalimantan Tengah," katanya. 
 
Selain itu, ASF, 18, juga jadi tersangka aborsi. ASF melakukan aborsi kandungan usia 4 bulan dengan cara serupa dengan AU, pada 12 Februari 2022. Kasus ASF aborsi terungkap usai ditemukan kejanggalan temuan makam baru di Makam Ngasem, Kecamatan Jetis, Bantul. 
 
"Pada 13 Februari masyarakat mengamankan orang yang ziarah di makam tersebut lalu dibawa ke Polsek. Hasil pemeriksaan, makam berisi hasil hubungan gelap dengan pacar, dan dimakamkan di makam tersebut," ujarnya. 
 
Ihsan menambahkan, keduanya memutuskan aborsi karena ingin bisa melanjutkan pendidikan. AU masih kuliah, sedangkan ASF yang merupakan warga Kecamatan Imogiri baru lulus SMA. Keduanya mengaku menyesal menggugurkan kandungan.  
 
"Oleh karena itu para tersangka kami kenakan Undang-undang Kesehatan pasal 194 dengan ancaman 10 tahun penjata. Juga Undang-undang Perlindungan Anak Pasal 77A dengan ancaman juga 10 tahun," ungkapnya. 

 
(WHS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif