Pendampingan Psikososial Penting Bagi Keluarga Penumpang

03 November 2018 16:00 WIB
Lion Air Jatuh
Pendampingan Psikososial Penting Bagi Keluarga Penumpang
Salah satu keluarga korban pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Tanjung Karawang berada di Posko Evakuasi Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. (Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja)
Jakarta: Pendampingan psikososial terhadap keluarga penumpang Lion Air JT610 PK-LQP dinilai tak kalah penting dari proses evakuasi dan identifikasi. Tak hanya sebagai bagian dari pemulihan trauma, pendampingan juga membantu keluarga penumpang menstabilkan perasaan emosional.

"Musibah besar ini pasti berdampak secara emosional. Reaksi emosional yang bisa kita lihat dari tayangan televisi atau kita lihat di sana adalah sesuatu yang normal dalam kondisi tidak normal," ujar Psikolog Tri Iswardani dalam Metro Siang, Sabtu, 3 November 2018.

Tri mengaku tak kali ini saja melakukan pendampingan keluarga penumpang yang mengalami musibah besar. Pada peristiwa jatuhnya pesawat AirAsia beberapa tahun silam pun ia ikut terlibat.


Menurut Tri pada dasarnya setiap orang memiliki kemampuan alami untuk memulihkan sendiri reaksi emosional setelah mengalami peristiwa menyakitkan. Namun masing-masing individu memiliki kemampuan berbeda menghadapi kondisi tersebut.

"(Fungsi) pendamping adalah mengusahakan agar pemulihan bisa berjalan sealami mungkin. Jadi tidak ditambah dengan berbagai intervensi yang justru bisa menambah komplikasi," ungkapnya.

Keberadaan pendamping, kata Tri, juga bisa menjauhkan keluarga yang berduka dari pertanyaan-pertanyaan tidak penting dari pihak-pihak yang tidak berkepentingan. Misalnya pertanyaan bagaimana penumpang meninggal atau tanda-tanda yang ditunjukkan pada kesempatan terakhir.

Pernyataan atau pertanyaan seperti itu hanya akan membangkitkan rasa emosional berlebihan atau bahkan kurang yang justru dapat mengganggu keseharian. Seperti enggan untuk makan atau sulit tidur selama berhari-hari.

"Orang berhari-hari tidak tidur atau tidak mau makan kan bisa sakit. Belum lagi perasaan terus marah, berdebar-debar yang bisa memengaruhi tekanan darah, jantung, dan lain-lain. Untuk mencegah reaksi berlebihan ini harus dilakukan stabilitas emosi," pungkasnya.





(MEL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id