Pemerintah Didesak Evaluasi Sertifikasi Boeing 737 Max 8

Whisnu Mardiansyah 01 November 2018 06:20 WIB
Lion Air Jatuh
Pemerintah Didesak Evaluasi Sertifikasi Boeing 737 Max 8
Boeing. Dok :AFP.
Jakarta: Komisi V DPR RI mendesak pemerintah mengevaluasi sertifikasi kelaikudaraan pesawat Boeing 737 Max 8. Hal ini terkait insiden jatuhnya pesawat JT610 di perairan Karawang, Jawa Barat.

"Pemerintah selaku regulator untuk mengevaluasi semua ijin sertifikat registrasi dan sertifikat kelaikudaraan pesawat jenis Boeing 737 Max 8 yang beroperasi di Indonesia," kata Wakil Ketua Komisi V DPR RI Sigit Sosiontomo di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 31 Oktober 2018.

Kata Sigit, dengan masa operasional pesawat yang baru dua bulan, kondisi pesawat Boeing 737 Max 8 seharusnya masih jaminan produsen pesawat. Dan sejatinya belum ada kerusakan pada panel navigasi.


"(Kerusakan) seperti yang tercatat dalam dokumen log book Lion Air PK-LQP saat menempuh perjalanan dari Denpasar menuju Jakarta," jelas Sigit. 

Hal ini menimbulkan dugaan kuat, pesawat Boeing 737 MAX 8 penerbangan Lion Air JT610 mengalami masalah teknis usai pesawat itu menyelesaikan penerbangan kedua pada Minggu 28 Oktober 2018 tujuan Denpasar-Jakarta.

(Baca: Hasil Inspeksi, 11 Pesawat Boeing 737 Max-8 Layak Terbang)

"Log teknis yang beredar di media untuk penerbangan kedua dari terakhir pesawat itu menunjukkan bahwa pembacaan kecepatan udara pada instrumen kapten tidak dapat diandalkan, dan pembacaan altitudo pada instrumen pilot dan kopilot mengalami perbedaan," jelas Sigit. 

Sigit menambahkan berdasarkan data yang ada di log book tersebut, kerusakan di pesawat dianggap cukup serius. Hal ini mengundang pertanyaan besar, pesawat baru dua bulan beroperasi dan baru 800 jam terbang panelnya sudah rusak.

"Apakah ada cacat produksi sehingga pesawat ini megalami malfungsi, mengingat tahun lalu Boeing juga sempat menarik mesin pesawat jenis ini karena ada masalah," kata Sigit.

Untuk itu, sebagai produsen Boeing diharapkan bertanggungjawab terhadap jaminan produknya. Mengingat pesawat yang dibeli Lion dari pabrikan asal Amerika Serikat ini bukan kali ini saja.

"Kalau tidak ada jaminan keamanan dan kelayakan dari Boeing bahwa produknya tidak cacat produksi, lebih baik pesawat yang sudah ada digrounded dulu sampai terbitnya jaminan keamanan dan kelayakan dari produsen pesawat," pungkasnya.



(JMS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id