Direktur Utama LPP TVRI Iman Brotoseno. Antara
Direktur Utama LPP TVRI Iman Brotoseno. Antara

Dirut TVRI Akan Bertanggung Jawab Atas Tulisannya di Medsos

Nasional tvri
Medcom • 30 Mei 2020 04:15
Jakarta: Direktur Utama LPP TVRI Iman Brotoseno banyak diperbincangkan di media sosial, Twitter. Netizen mengungkit berbagai tulisan Iman di masa lalu yang dianggap kontroversi.
 
Iman angkat bicara soal tulisannya yang kembali diangkat oleh netizen. Iman mengatakan sebagai pekerja seni, sutradara film, penulis, fotografer, mungkin mempunyai cara pandang bersikap yang berbeda bagi sebagian orang.
 
Menurut dia, menilai seseorang tak bisa hanya dari satu sisi. Dia mengaku punya banyak tulisan terkait masalah kebangsaan, sejarah, alam, fotografi, masalah aktual ( current issue ), politik, budaya, dan agama Islam. Tulisan itu dinilai bisa menggambarkan sosok Iman yang sebenarnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Banyak tulisan tulisan saya di blog pribadi atau majalah yang bisa menunjukkan siapa saya," ujar Iman dalam keterangannya, Jakarta, Jumat, 29 Mei 2020.
 
Iman menyampaikan dalam era digital sekarang, semua punya rekam jejak digital dan peristiwa masa lalu. Sejak awal, dia tidak pernah berbohong kepada publik. Semua jejak digitalnya bisa dilihat dan tidak ada kasus pelanggaran hukum di masa lalu.
 
"Saat itu, netizen masih belum terpolarisasi dan belum terjadi perpecahan kubu aspirasi politik maupun ideologi seperti sekarang. Dalam percakapan itu yang juga melibatkan beberapa orang seperti pekerja seni termasuk saya, dapat menggunakan bahasa gurauan yang oleh pihak lain dapat dianggap sebagai hal serius," ujar dia.
 
Saat 14 tahun lalu, Iman sebagai pekerja seni tak pernah menyangka bakal menduduki jabatan publik di TVRI. Dia menegaskan akan bertanggung jawab atas semua tulisannya di media sosial dan sikapnya sebagai warga negara.
 
"Bahwa di belakang hari ada yang mengungkap beberapa tulisan di jejaring sosial, setelah saya atas kehendak Allah SWT menjadi direktur utama LPP TVRI, terlepas dari adanya tujuan tertentu, niatan sengaja membelokkan opini dan melakukan pembunuhan karakter, tentu merupakan fakta yang harus saya hadapi," kata dia.
 
Netizen juga menyoroti rekam jejak Iman yang pernah menjadi kontributor di majalah Playboy Indonesia. Iman mengaku sempat mengisi artikel foto beberapa majalah lain tentang penyelaman pada 2006-2008, termasuk majalah Playboy Indonesia.
 
Artikelnya yang pernah dimuat di majalah Playboy Indonesia berjudul Menyelam di Pulau Banda pada edisi September 2006. Namun, dia berdalih tak ada unsur pornografi dari atikel itu.
 
"Tulisan ini fokus mengulas wisata bahari dan sama sekali tidak ada unsur pornografi," kata dia.
 
Menurut dia, Majalah Playboy Indonesia sangat berbeda dengan versi di luar negeri. Banyak penulis yang mengisi dan banyak tokoh nasional diwawancara untuk majalah Playboy Indonesia. Mengisi artikel di Majalah Playboy Indonesia, lanjut dia, tidak menghilangkan integritas penulis dan tokoh yang bersangkutan. Karena substansinya tidak terkait pornografi.
 
Bahkan, terang dia, Dewan Pers sempat memberikan penilaian terhadap kasus Erwin Arnada, Pemred majalah Playboy Indonesia pada 2010, yang divonis melanggar kesusilaan oleh Mahkamah Agung. Saat itu, kata dia, Dewan Pers tegas menolak menyebut majalah Playboy Indonesia melanggar pasal pornografi.
 
"Bahkan Dewan Pers menilai putusan tersebut (MA) merupakan bentuk kriminalisasi pers," terang dia.
 
Menurut Iman, terpenting saat ini ialah menguatkan komitmennya untuk memperbaiki hal-hal yang buruk di masa lalu dan memulai tahap baru. Dia berharap mampu mengemban beban amanah melalui jabatan direktur utama LPP TVRI.
 
"Apa yang diungkap di masyarakat tentu merupakan kritik dan masukan bagi saya agar semakin lebih baik ketika menyandang amanah Allah bekerja di TVRI. Termasuk tata cara perilaku dan narasi di ruang publik," ucap dia.
 
Iman memastikan akan fokus bekerja sebaik mungkin untuk kepentingan bangsa dan negara. Dia juga mengaku sudah mulai berusaha menyelesaikan urusan internal yang sangat strategis ialah menyelesaikan urusan tunjangan kinerja karyawan, khususnya mengenai rapel tunjangan kinerja yang merupakan hak karyawan.
 
Dia bersama anggota direksi LPP TVRI juga mulai menyelesaikan pengisian jabatan struktural yang kosong guna memperlancar urusan penyelenggaraan TVRI. Menurut dia, pekerjaan ini menjadi priroritas agar sebagai TVRI dapat segera meningkatkan karyanya, semakin bermanfaat untuk publik, bangsa dan negara, serta membawa kemajuan manajemen dan kesejahteraan pegawai.
 
"Saya berpedoman, bahwa jauh lebih penting untuk bekerja dan mewujudkan janji saya dalam membawa TVRI ini menjadi lebih maju ke depannya," kata dia.
 

(AZF)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif