Mantan Kepala Badan Intelijen Negara, (BIN) Jenderal (Purn). A.M. Hendropriyono. MI-Depi Gunawan
Mantan Kepala Badan Intelijen Negara, (BIN) Jenderal (Purn). A.M. Hendropriyono. MI-Depi Gunawan

Prajurit TNI Terpapar Radikalisme Perlu Ditindak Tegas

Nasional radikalisme
Muhammad Syahrul Ramadhan • 22 Juni 2019 05:31
Jakarta: Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) A.M Hendropriyono menilai temuan tiga persen prajurit TNI terpapar radikalisme perlu tindakan tegas. Pasalnya, prajurit adalah garda terdepan penegak Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
 
Ia mencontohkan saat penumpasan paham komunis terdahulu. Prajurit yang diketahui terpapar paham komunis terancam dihukum penjara 6-20 tahun.
 
"Ini juga begitu kalau masih ada yang terus-terusan paham radikalisme ada sanksinya, Ada hukumnya," kata Hendropriyono, usai halal bihalal bersama purnawirawan ABRI, di kawasan Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat 21 Juni 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya, radikalisme ancaman besar dan berbahaya bagi keutuhan NKRI. Terlebih apabila yang terpapar adalah prajurit TNI aktif. Prajurit diingatkan kembali sumpah prajurit dan sapta marga.
 
"3 persen radikal itu berbahaya, karena itu saya harapkan kepada kaum muda yang masih aktif untuk merenungkan hal ini," ujarnya.
 
Sebagai prajurit aktif tentu ancaman hukuman berbeda dengan masyarakat sipil. Hukum militer lebih berat dan hukum biasa.
 
"Karena hukum militer seusai kena pidana kena lagi hukum disiplin Kitab undang-undang hukum disiplin tentara (KUHDT), kena lagi tindakan disiplin, jadi bertumpuk tumpuk, jadi hukum militer lebih berat," terang Hendropriyono.
 
"Kita mengimbau supaya mereka menepati sumpah prajurit, menyatakan setia kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila. Sumpah, tidak boleh main-main dengan sumpah," ucapnya.
 
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengaku prihatin dengan dengan sekelompok tertentu yang ingin mengganti ideologi negara Pancasila dengan ideologi khilafah negara Islam. Parahnya lagi, kata dia, ada prajurit TNI yang terpapar paham radikalime.
 
"Saya sangat prihatin dengan hasil pengamatan yang dilakukan Kementerian Pertahanan baru-baru ini tentang Pancasila. Pancasila itu kan perekat negara kesatuan ini. Rusaknya Pancasila, merusak persatuan kita. Hilangnya Pancasila berarti hilangnya negara ini," kata Ryamizard dalam sambutannya saat acara halalbihalal dengan anggota aktif dan purnawirawan TNI yang dilangsungkan di GOR Ahmad Yani Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu, 19 Juni 2019.
 
Berdasarkan data yang dimiliki Kemhan, sebanyak sekitar tiga persen anggota TNI yang sudah terpapar paham radikalisme dan tidak setuju dengan ideologi negara, Pancasila.
 
"Kurang lebih tiga persen (anggota) TNI terpengaruh radikalisme," ujarnya.
 

(WHS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif