Membangun Karakter Siswa Lewat Puisi Esai
Buku. Ilustrasi: Medcom.id/Mohammad Rizal.
Jakarta: Puisi esai digalakkan untuk membangun karakter siswa. Hal itu dilatarbelakangi semakin tinggi permasalahan karakter yang mencerminkan keberagaman, kesetaraan, dan kebebasan warga negara pada siswa hingga guru di sekolah.

Riset dari PPIM UIN Syarif Hidayatullah (2018) dan survei LSI Denny JA (2018), menemukan semakin tingginya tingkat intoleransi di kalangan siswa, bahkan kalangan para guru. Di luar riset itu juga diketahui luas isu soal narkoba, pernikahan dini, apatisme atas isu lingkungan, keluarga yang patah (broken home), dan pencarian identitas diri di kalangan siswa.

"Sastra bukan hanya belajar karya baku para sastrawan. Sastra juga adalah ekspresi para siswa dan mahasiswa atas lingkungan sosialnya sendiri, kemarahannya, ketakutannya, kegembiraanya, harapannya," kata peneliti Denny JA dalam rilisnya, Minggu, 18 November 2018.


Lima dosen dan guru dari Sumatra, Jawa, Kalimantan,dan Papua menyusun buku panduan soal puisi esai untuk sekolah. Jenis puisi ini panjang, dengan catatan kaki yang memberi ruang bagi drama moral yang menyentuh. 

Dengan sedikit riset, fakta dan data di lingkungan sosial para siswa dapat dituliskan dalam catatan kaki. Mereka menambahkan fiksi sehingga kisah nyata itu menjadi drama, cerpen, yang dipuisikan.

"Detail soal puisi esai dapat dipelajari para guru dan dosen melalui buku mengenal puisi esai. Pembaca dapat pula membacanya secara daring," tambah dia.

Sebanyak 176 penyair dari 34 provinsi menuliskan kearifan lokal di provinsi masing-masing dalam 34 buku puisi esai. Kisah budaya Indonesia di 34 provinsi tersaji di sana.

Baca: Kalla: Indonesia Harus Mengembalikan Kejayaan Keilmuan

Sebanyak 12 penyair Malaysia dan Indonesia sudah pula menuliskan riwayat hubungan dua negara dalam puisi esai. Mempelajari hubungan kultural dan batin Indonesia pun dianggap justru lebih terasa dalam bentuk sastra.

"Kini penyair dari Brunei, Thailand, Singapura menuliskan riwayat kulturnya sendiri, juga dalam puisi esai," ucap dia.

Di Malaysia, kata dia, bahkan diluncurkan lomba menulis puisi esai di tingkat ASEAN. Kini anak-anak SMA di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, mulai meriset soal dunia mereka sendiri. Riset itu ditambahkan fiksi menjadi puisi esai.





(OGI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id