Sunat Perempuan Termasuk Kekerasan Anak
Ilustrasi. Medcom.id/Mohammad Rizal.
Jakarta: Sunat untuk bayi perempuan masih menjadi kontroversi. Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, dr. Eni Gustina, mengatakan hal tersebut masuk dalam kategori kekerasan terhadap anak.

"Ini terkait kekerasan anak. Di UNICEF, Indonesia cukup tinggi sehingga kita di-judge sebagai pelaku kekerasan terhadap anak karena sunat perempuan. Melalui kongres IBI (Ikatan Bidan Indonesia) sudah disampaikan bahwa bidan-bidan tidak boleh melakukan sunat perempuan,” ujar Eni dilansir dari Antara, Rabu, 19 September 2018.

Ia menuturkan, di Indonesia persentase praktik sunat anak perempuan cukup tinggi. Pasalnya, praktik sunat anak perempuan di Indonesia masih masuk dalam budaya turun-menurun.


“Ini bagian dari budaya, ini kayak mitos. Sunat enggak ada manfaatnya sama sekali untuk perempuan. Bahkan sekarang menyentuh kulit kelamin anak saja enggak boleh,” tuturnya.

Sementara itu, para bidan telah sepakat dan berkomitmen untuk tidak melakukan sunat pada anak perempuan. Eni pun memaparkan, meski belum ditemukannya bahaya dari sunat perempuan, praktik sunat perempuan bisa mendatangkan infeksi jika tidak dilakukan dengan benar.

“Itu organ dilukai bisa terjadi infeksi. Itu kan bagian paling sensitif untuk berhubungan seksual, bayangin kalau harus dibuang. Di Indonesia ada yang ringan sunatnya, cuma digores, disayat sampai dipotong. Tapi itu tidak boleh dan itu masuk pada kekerasan terhadap anak dan perempuan,” pungkasnya.



(LDS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id