Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga. (Metrotvnews.com)
Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga. (Metrotvnews.com)

Penyebab Kekerasan Kerap Dilakukan Orang Terdekat

Nasional kekerasan anak kekerasan dalam rumah tangga
20 Oktober 2017 10:04
medcom.id, Jakarta: Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh anggota keluarga inti di sejumlah wilayah di Indonesia membuka mata banyak pihak bahwa kekerasan dan perilaku jahat bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk orang terdekat.
 
Psikolog Forensik Reza Indragiri menilai banyaknya kasus kekerasan berujung pada pembunuhan yang dilakukan oleh orang terdekat terjadi karena beberapa faktor. Yang paling utama, lingkungan keluarga yang tertutup membuat seseorang merasa satu-satunya norma yang berlaku adalah yang ada di keluarga. Tidak ada norma lainnya.
 
"Ketika norma dirasakan sedemikian minim, kontrol perilaku manusia juga akan mengendur. Ini yang menyebabkan seseorang mudah tersulut," ungkap Reza, dalam News Story Insight (NSI), Kamis 19 Oktober 2017.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Faktor kedua, kata Reza, sesama anggota keluarga umumnya akan saling menutupi aib dan mudah memaafkan satu sama lain. Keyakinan bahwa aib adalah keburukan yang harus ditutupi membuat tindak kekerasan maupun kejahatan sulit tercium oleh publik.
 
"Aib harus ditutupi sebaik-baiknya, itu yang kemudian disadari atau tidak menciptakan suatu prakondisi terjadinya aksi kekerasan bahkan kejahatan yang dilakukan keluarga," katanya.
 
Reza mengatakan selama ini masyarakat hanya diberi pemahaman untuk berhati-hati pada orang asing. Padahal secara tidak langsung, dalam Undang-undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan UU Perlindungan anak sangat tegas pesan serta informasinya bahwa orang yang paling dekatlah yang justru perlu diwaspadai.
 
Bahkan di dalam Undang-undang Perlindungan Anak ada satu pasal yang berbunyi ketika pelaku adalah orang dekat maka akan dijatuhi hukuman pemberatan. Hal ini membuat masyarakat harus sadar bahwa yang akan melakukan kejahatan terhadap diri kita sewaktu-waktu tak lain adalah kerabat kita sendiri.
 
"Undang-undang ini mengirimkan isyarat pada kita bahwa sejak dulu pun sudah ada pemafhuman bersama bahwa orang dekat lah, anggota keluargalah yang sangat sering melakukan kekerasan," jelasnya.
 

 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif