Ilustrasi alat pendeteksi tsunami di Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Sabtu (16/4). FOTO ANTARA/Ampelsa.
Ilustrasi alat pendeteksi tsunami di Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Sabtu (16/4). FOTO ANTARA/Ampelsa.

Pendeteksi Tsunami di Selat Sunda Hilang Sejak 2007

Nasional Tsunami di Selat Sunda
Whisnu Mardiansyah • 23 Desember 2018 20:52
Jakarta: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengakui beberapa alat pendeteksi tsunami di beberapa wilayah perairan rusak. Salah satunya di perairan Selat Sunda yang sudah rusak dan hilang sejak 2007 lalu.
 
"11 tahun yang lalu sejak 2007 (Buoy hilang), enggak tahu kemana. Buoy itu dari BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi)," kata Kepala Pusat Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Tiar Prasetya di kantor BMKG, Jalan Angkasa, Jakarta Pusat, Minggu 23 Desember 2018.
 
Hingga saat ini, alat pendeteksi tsunami di perairan Selat Sunda belum dipasang kembali. Pengadaan alat yang disebut Buoy itu dibawah kewenangan BPPT. Termasuk proses pemeliharaannya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita dikirimi data tapi Buoy sekarang banyak yang rusak," ucapnya.
 
Dengan alat itu, bisa mendeteksi kecepatan tsunami hingga mencapai daratan. Sehingga proses evakuasi warga di sepanjang bibir pantai bisa lebih cepat dilakukan.
 
"Kecepatan tsunami, kalau di laut dalam mencapai 250 km per jam. Semakin mendekati daratan dangkal 40 km per jam," ucapnya.
 
Baca:Ada Anomali Peningkatan Pasang Air Laut Saat Tsunami
 
Tiar menggarisbawahi, meski sejumlah wilayah perairan tidak ada dipasang Buoy, proses peringatan dini tsunami dilakukan secepat mungkin. BMKG segera mengirim sistem peringatan dini yang disebar ke masyarakat.
 
"Ada atau tidak ada BUOY, maka kalau ada gempa dan kita yakin potensi tsunami kurang dari 5 menit kita berikan warning ke masyarakat," pungkasnya.
 
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho melaporkan data korban akibat tersapu tsunami di perairan Selat Sunda. Hingga Minggu, 23 Desember 2018, pukul 16.00 WIB, korban tewas bertambah menjadi 222 orang.
 
"Jumlah korban dan kerusakan akibat tsunami yang menerjang wilayah pantai di Selat Sunda terus bertambah. Data sementara yang berhasil dihimpun Posko BNPB hingga pukul 16.00 WIB tercatat 222 orang meninggal dunia, 843 orang luka-luka, dan 28 orang hilang," ujar Sutopo di Yogyakarta, Minggu, 23 Desember 2018.
 
Baca:BNPB Mengakui Alat Pendeteksi Dini Bencana Belum Komplet
 

(LDS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif