Foto aerial kerusakan akibat Tsunami di kawasan Carita, Banten, Jawa Barat, Senin (24/12/2018). Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Foto aerial kerusakan akibat Tsunami di kawasan Carita, Banten, Jawa Barat, Senin (24/12/2018). Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay

Antisipasi Tsunami, Staf KLHK Akan Dievakuasi dari Pulau Panaitan

Nasional Tsunami di Selat Sunda
Antara • 24 Desember 2018 14:51
Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) segera mengevakuasi 16 stafnya yang bertugas di Pulau Panaitan, Banten, guna mengantisipasi terjadi bencana tsunami. Pulau tersebut masih dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Banten.
 
"Kita ada 15 resort (konservasi) dan total stafnya ada 113 di Taman Nasional Ujung Kulon, yang terdampak (tsunami) telak itu ada di Pulau Panaitan. Ada satu tenaga honorer di Resort Citelang, Pak Rubani meninggal dunia, dan satu tenaga honorer lainnya Pak Sandi belum ditemukan," kata Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekologi (KSDAE) Wiratno, Senin, 24 Desember 2018.
 
Menurut Wiratno, saat ini yang harus segera dilakukan mengevakuasi 16 staf yang sedang bertugas di Legon Kadam dan Legon Butun di Pulau Panaitan. "Tapi kendalanya ada di persoalan kapal, karena semua kapal nelayan di sana rusak terkena tsunami, satu- satunya kapal kita juga bocor, sekarang sedang diupayakan diperbaiki".

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pihaknya sudah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat dan mitra kerja KLHK yakni WWF-Indonesia dan Yayasan Badak Indonesia untuk bisa mengevakuasi.
 
Wiratno mengatakan antisipasi ini dilakukan setelah menerima laporan hasil pantauan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung terkait masih tingginya aktivitas Gunung Anak Krakatau.
 
"Aktivitas (Gunung) Anak Krakatau kita juga pantau terus dari pos milik BKSDA Bengkulu-Lampung yang ada di Pulau Sebesi. Jaraknya hanya 17,5 kilometer dari gunung, dari sana tidak ada halangan apa pun untuk melihat erupsi, jadi sangat terpantau kalau kubah gunung itu semakin tinggi," ujar dia.
 
Dengan mengambil pelajaran dari bencana kali ini ia mengatakan dipastikan ke depan akan melengkapi stafnya dengan radio komunikasi yang tidak memerlukan aliran listrik untuk bisa tetap berkomunikasi.
 
"15 hari dalam sebulan mereka bertugas di resort-resort tersebut. Perbekalan mereka sih cukup untuk sampai tanggal 31 Desember 2018, tapi untuk mengantisipasi bencana lagi lebih baik mereka kita evakuasi," ujar dia.
 
Menurut Wiratno, TNUK yang relatif aman dari dampak tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 hanya yang ada di wilayah selatan. Seperti resort Karang Panjang, resort Kalejetan, resort Gunung Honje.
 
"Kita berharap setelah ini kita bisa survei kondisi yang lainnya di taman nasional, terutama badak (badak jawa)," ujar dia.
 
Taman Nasional Ujung Kulon yang terletak di semenanjung barat Pulau Jawa merupakan taman nasional tertua di Indonesia dan hingga kini menjadi satu-satunya rumah dari spesies badak bercula satu atau badak jawa (Rhinoceros sondaicus) yang tersisa di bumi.
 

(MBM)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif