Mahasiswa UMM Ciptakan Pengayak Padi Ramah Lingkungan
Petani melakukan panen perdana padi, di Persawahan Oepoi, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), MI Palce Amalo.
Malang:  Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan inovasi baru bagi petani, yakni Screentel atau pengayak padi ramah lingkungan.

Salah seorang anggota tim pencipta alat tersebut, Cyntia Fea Saputri di Malang, Kamis, 14 Juni 2018 mengatakan, pengayak tersebut juga ramah di dompet petani, karena harganya tidak terlalu mahal.  Selain itu juga mampu meminimalisasi cidera otot petani yang masih melakukan pengayakan secara tradisional.

"Alat ini didesain ergonomis dan istimewa karena tidak membutuhkan bahan bakar untuk pengoperasiannya. Selain hemat energi,  risiko cidera otot yang dialami petani karena cara tradisional juga dapat diminimalisasi," ujar Cyntia seperti dilansir Antara.


Screentel padi atau pengayak padi adalah sebuah alat untuk memisahkan bulir padi dari gagangnya. Inovasi ini hadir di antara teknologi konvesional, di mana petani masih manual merontokkan padi dengan tangan dan memanfaatkan penggunaan mesin berbahan bakar minyak, sehingga kehadiran Screentel membawa angin segar.

Dengan berbagai kelebihan itu, penggunaan alat ini juga cukup mudah.  Petani hanya perlu mengayuh pedal di alat dan  nantinya otomatis Screentel dapat bekerja sendiri dengan gir maju mundur yang bisa di setting sesuai yang diinginkan pengguna (petani).

Dengan demikian, lanjutnya alat ini dapat meringankan petani terutama mereka yang masih tradisional dan menggunakan sabit. Meski terkesan sederhana, hasil pemisahan bulir padi yang dihasilkan Screentel ini kualitasnya sama dengan mesin pengayak berbahan bakar minyak.

Karena keunggulannya itu, Screentel padi sudah diikutkan dalam perlombaan di Universitas Sebelas Maret pada acara Descomfirst 2018 dengan tema Desain Manual Tools beberapa waktu lalu.

Cyntia mengaku bangga dengan hasil karya tersebut, sebab Screentel awalnya didesain dengan sederhana.  "Kami cukup bahagia dan bangga, karena hanya berawal dari sebuah coretan berhasil membuat alat yang seperti ini, kami juga berusaha memperbaiki apa saja yang masih kurang pada alat ini," tambahnya.

Ia dan tim, terus berupaya menyempurnakan Screentel ciptaannya, bahkan telah merencanakan "masa depan" alat ini. Mereka juga berkeinginan untuk memasarkan alat tersebut dengan harga yang cukup bersahabat dan ramah di kantong petani.   "Kalau nanti dikomersialkan dan dipasarkan secara luas, harga yang kami patok tidak terlalu tinggi, yakni antara Rp1,5 juta hingga Rp 2 juta per unit," ucapnya.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id