Identifikasi Korban Lion Air PK-LQP Makan Waktu
Petugas mencatat data antemortem keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di posko Crisis Center di Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang, Bangka Belitung. (Foto: ANTARA/Ananta Kala)
Jakarta: Proses identifikasi korban Lion Air JT610 PK-LQP yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, memerlukan waktu lama. Identifikasi satu korban bahkan butuh waktu paling tidak satu minggu.

Dokter Spesialis Forensik Budi Suhendar mengatakan proses identifikasi dilakukan dengan membandingkan data antemortem dan postmortem. 

"Sampel yang diambil oleh keluarga dalam antemortem akan kita cocokan dengan pemeriksaan postmortem. Jadi dua-duanya harus berjalan. Prosesnya di laboratorium dan dirilis setelah ada hasilnya," ujarnya dalam Breaking News Metro TV, Kamis, 1 November 2018.


Antemortem adalah data fisik khas seperti tanda lahir, cacat atau bekas luka, tato, atau pakaian terakhir yang dikenakan korban sebelum meninggal. Data ini dikumpulkan dari keluarga dan orang terdekat yang mengenal korban.

Sedangkan data postmortem dikumpulkan berdasarkan identifikasi personal setelah korban meninggal seperti sidik jari, konstruksi gigi, sampai dengan barang-barang yang melekat di tubuh korban. 

Menurut Budi proses identifikasi tidak akan berlangsung lama asalkan tubuh korban utuh dan masih memiliki sidik jari atau kosntruksi gigi yang lengkap. Lain hal jika yang tersisa hanya beberapa bagian tubuh seperti korban kecelakaan pesawat.

"Kalau hanya bagian-bagian tubuh nanti ada proses laboratorium. Kita akan menggunakan tes DNA ketika tidak ada sidik jari atau data gigi geligi pada tubuh korban," ungkapnya.

Proses pengolahan data berdasarkan DNA, kata Budi, memakan lima sampai delapan hari setelah sampel diambil. Setelahnya sampel akan diolah dalam proses pengujian di laboratorium.

Kendati demikian Budi meyakini dalam kondisi apa pun tubuh korban ditemukan proses pemeriksaan DNA tetap dapat dilakukan. Setelah pengujian, kode genetik khas dari korban akan dicocokkan dengan data yang telah terkumpul.

"Yang mungkin membuat lama karena belum ada cara identifikasi primer selain pengujian DNA. Kalau saja ada sidik jari yang bisa didapatkan lebih banyak lagi atau bagian tubuh masih terdapat sidik jari proses identifikasi bisa lebih cepat," jelasnya.





(MEL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id