Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati. Foto: MI/Rommy Pujianto
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati. Foto: MI/Rommy Pujianto

BMKG Sebut Ada Potensi Tsunami di Papua

Nasional penanggulangan bencana Mitigasi Bencana
Annisa ayu artanti • 22 Maret 2019 06:15
Jakarta: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan potensi tsunami dapat terjadi di daerah Papua. Potensi tsunami itu juga belum bisa diprediksi.
 
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan, tsunami tersebut bisa terjadi akibat dari patahan dan aktivitas gunung api bawah laut. Sejauh ini BMKG telah merekam peningkatan intensitas kegempaan di wilayah Papua seperti Laut Banda, Halmahera, Ambon, Maluku Utara, dan bagian utara Papua.
 
"Apabila gempa itu terjadi di dasar laut sebagai akibat dari patahan, gempa tersebut dapat membangkitkan menimbulkan tsunami. Jadi potensi tsunami dapat terjadi," kata Dwikorita di Jakarta, Kamis, 21 Maret 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski demikian, lanjut Dwikorita, gempa dan tsunami tersebut tidak bisa diprediksi. BMKG mengimbau masyarakat yang tinggal di pinggir pantai tetap waspada dan bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
 
Masyarakat juga diminta untuk mengetahui dan memahami jalur-jalur evakuasi terdekat. Jika merasakan gempa kuat atau gempa dengan durasi yang lama, masyarakat diminta untuk segera menjauhi pantai dan mencari tempat yang tinggi.
 
"Apabila merasakaan guncangan gempa yang kuat, kuat itu seperti badan mau jatuh. Atau gempa tidak terlalu kuat, tapi tidak berhenti misal 20 detik, segera saja mencari tempat yang lebih tinggi untuk evakuasi. Ini berjaga-jaga," jelas dia.
 
Di sisi lain, Dwikorita menambahkan, dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap gempa BMKG akan menambah 10 sensor kegempaan di wilayah Papua. Saat ini, sensor kegempaan yang telah terpasang sebanyak 16 sensor. BMKG memastikan sensor-sensor tersebut berfungsi dengan baik.
 
"Kami menambah 10 sensor baru. Total 26. Sensor tersebut kami pelihara dan kami jaga dan kondisinya on semua," ujar dia.
 
Dwikorita juga meminta pemerintah daerah lebih memperhatikan kondisi pantai, seperti penerangan pada malam hari dan penanaman kembali hutan mangrove. Dua hal tersebut diyakininya bisa membantu ketika gempa dan tsunami terjadi.
 
"Hutan pantai atau mangrove harus dipelihara jangan di habiskan. Terbukti di Selat Sunda, hutan pantai dapat meredam kecepatan laju tsunami. Itu bisa menyelamatkan rumah-rumah," pungkas dia.
 

(DMR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif