Kecelakaan Lion Air JT610

Ambil Data Antemortem, Polisi Datangi Keluarga Korban

Damar Iradat 30 Oktober 2018 16:26 WIB
Lion Air Jatuh
Ambil Data Antemortem, Polisi Datangi Keluarga Korban
Suasana konferensi pers terkait identivikasi korban kecelakaan pesawat Lion Air JT610. Foto: Medcom.id/Damar Iradat..
Jakarta: Kepolisian akan mendatangi keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610. Petugas akan mengumpulkan data antemortem untuk mengindentifikasi korban.
 
"Kita sudah sering melaksanakan tugas seperti itu. Di manapun alamatnya, ketika dia tidak datang ke sini (RS Polri), kita ambil ke tempat alamat yang bersangkutan," kata Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri, Brigjen Arthur Tampi di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa, 30 September 2018.
 
Ia menjelaskan, pihaknya telah membuka posko antemortem di Bangka Belitung untuk memudahkan pengumpulan data. "Kalau keluarganya tidak bisa datang ke posko, kita yang akan jemput sampai ke rumah keluarga korban," tutur dia.
 
Arthur mengatakan, pihaknya telah megumpulkan 185 data antemortem dari keluarga korban. Sementara, pengumpulan DNA dari keluarga korban baru mencapai 72 orang.
 
Menurutnya, banyak kerabat maupun keluarga korban yang datang ke posko di Bangka Belitung dan RS Polri. Namun, untuk proses identifikasi korban lewat DNA diperlukan sampel DNA dari garis keturunan korban, baik ayah, ibu atau anak langsung.
 
"Yang datang kadang-kadang bukan garis keturunannya. Untuk itu kita minta yang datang ada  garis keturunannya langsung untuk kita ambil sampel DNA-nya," ujar dia.
 
Ia memaparkan, kesulitan dalam proses identifikasi yakni jenazah korban yang tidak utuh. "Proses identifikasi ini lebih rumit dibanding dengan menemukan jenazah yang masih utuh atau relatif utuh," papar dia.
 
Arthur mengimbau keluarga memberi keterangan sesuai ciri fisik korban ataupun properti yang digunakan korban. Selain itu, catatan medis seperti rontgen gigi bila ada juga bisa diserahkan.
 
"Itu akan membantu. Termasuk foto-foto terakhir, apalagi kalau foto itu senyum dan ada giginya itu sangat diperkukan untuk lakukan proses identifikasi," ungkap dia.

Baca: Grafik Flightradar Rekam Aktivitas Abnormal Penerbangan JT610

Kendati begitu, ia mengatakan, proses identifikasi lebih mudah menggunakan sampel DNA. Sebab, identifikasi lewat sidik jari dan rekam gigi dengan kondisi korban saat ini sulit dilakukan.
 
"Tidak ada sidik jarinya. Primer itu kita paham ada tiga. Identifikasi primer itu sidik jari, rekam gigi, dan DNA. Gigi tidak kita temukan, sidik jari belum kita temukan. Nah yang paling mungkin DNA," tuturnya.
 
Dia mengungkapkan, pemeriksaan satu profile DNA membutuhkan waktu 4x24 jam. "Untuk memprofiling dan kemudian kita profile juga pembanding dari keluarga yang datang," kata Arthur.






(FZN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id