Gelap dan Bingung, Cerita Penyintas Bencana di Palu

Kuntoro Tayubi 06 Oktober 2018 03:19 WIB
Gempa Donggala
Gelap dan Bingung, Cerita Penyintas Bencana di Palu
Salah satu korban bencana Palu dan Donggala yang selamat. Dia merupakan warga Balapulang, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (Medcom.id/Kuntoro Tayubi)
Tegal: Muhammad Andi Siswanto, 28, warga RT 02 RW 03 Desa Harjawinangun, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, adalah salah satu korban gempa bumi dan tsunami di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng), pada Jumat, 28 September 2018 lalu. Beruntung, pemuda ini berhasil selamat meski sempat terjebak selama dua hari di lokasi bencana.

"Saat itu saya sedang berada di sebuah penginapan di Kota Palu. Lokasinya dekat dengan pantai yang terjadi tsunami," kata Andi, mengawali perbincangan di kediamannya, Jumat, 5 Oktober 2018.

Andi bekerja sebagai teknisi di Jakarta. Tapi dia mendapat tugas dari perusahaannya untuk pergi ke Palu. Memasang mesin penjernih air di salah satu restoran makanan cepat saji di kota tersebut. Dia tiba di Kota Palu sehari sebelum bencana gempa bumi dan tsunami yakni pada Kamis (27/9) sekitar pukul 23.00. Pada malam itu, Andi menginap di sebuah penginapan dekat Bandara Mutiara SIS Aljuri Palu. Menginap hanya satu malam. Keesokan harinya, Andi mencari penginapan lain yang dekat dengan lokasi restoran tersebut. Restoran itu berada di dalam kompleks Palu Grand Mall. 


"Setelah dapat penginapan yang baru, saya langsung chek-in di penginapan itu," ujarnya.

Dia menuturkan, semula gempa terjadi pada pukul 14.00 Jumat (28/9). Tapi masih skala kecil. Kemudian pada pukul 17.00, gempa terjadi lagi. Tapi masih skala kecil juga. Setelah Magrib, gempa besar terjadi. Kala itu, warga langsung panik. Pengelola penginapan juga meminta kepada seluruh tamu untuk keluar dari penginapan. Termasuk dirinya. Tanpa menunggu lama, Andi langsung keluar. Tapi, dia sempat masuk untuk mengambil tas yang berisi pakaian. Sedangkan dompet dan barang lainnya, masih tertinggal di dalam kamar.

"Hanya tas saja yang saya bawa. Dompet di meja dan barang-barang lain tak sempat diambil karena sudah panik. Untungnya di tas ada uang Rp800 ribu," tutur Andi mengisahkan.

Sebelum gempa besar dan tsunami, Andi melihat sejumlah bangunan di sekitar penginapan sudah mulai ambruk. Sejumlah akses jalan rusak. Aliran listrik padam. Kota Palu gelap gulita. Jaringan komunikasi juga terputus. Sementara warga berhamburan di jalanan dengan kondisi panik. Yang mengendarai motor, ada yang tabrakan. Ada pula yang jatuh. 

"Kepala saya juga sempat kena tembok penginapan karena guncangan gempa," ucapnya.

Selain panik, Andi juga bingung harus berbuat apa dan pergi kemana. Karena sudah bingung, akhirnya Andi nekat memberhentikan mobil. Dia memohon untuk bisa menumpang. Beruntung, pengemudi mobil memberikan tumpangan. Ternyata, pengemudi mobil itu warga Donggala. Semula, Andi akan diajak ke rumahnya di daerah Loli, Donggala. Tapi urung karena ternyata rumah pengemudi mobil itu sudah rata diterjang tsunami.
 
"Akhirnya saya dibawa ke rumah orangtuanya di daerah Buluri," ujarnya.

Buluri berada di kawasan pesisir Kabupaten Donggala. Di tempat itu, Andi bersama ribuan warga lainnya mengungsi di perbukitan. Mereka masih khawatir akan terjadi tsunami susulan. Karena wilayah tersebut termasuk yang terparah diterjang tsunami dengan ketinggian hingga tujuh meter. Di bukit itu, Andi tidur di terpal. Selama dua hari itu, alat komunikasi mati total. Termasuk listrik juga mati. 

"Selama dua hari ngungsi di bukit. Kalau mau turun, pada pagi hari. Kalau mau Magrib, naik lagi. Ada juga yang dua hari di bukit terus karena takut," kata pria lajang ini.

Setelah dua hari mengungsi di bukit, Andi kemudian mencari informasi untuk pergi ke Makassar agar bisa kembali ke Jakarta. Dia akhirnya bisa sampai di Makassar setelah menempuh perjalanan darat selama 22 jam dari Donggala melalui Kabupaten Sidrap. "Dari Makassar naik pesawat ke Jakarta terus pulang ke Tegal. Sampai di rumah kemarin sore (Rabu 4/10)," ucapnya dengan penuh kelegaan.

Kepulangan Andi ke rumahnya pun disambut tangis haru oleh keluarganya yang sempat dilanda kecemasan karena mengetahui Andi berada di Palu saat gempa dan tsunami terjadi.  

"Saya awalnya tidak tahu dia di Palu karena kan biasanya kerjanya di Jakarta," kata Sohibi, ayah Andi.

Sohibi baru tahu saat diberi kabar oleh adik iparnya. Kala itu, dia disuruh menghubungi Andi melalui handphone. Tapi setelah menghubungi, tidak ada sambungan masuk. Dia pun cemas dan panik.

"Saya langsung cemas. Tidak tenang. Namanya orangtua. Apalagi pas ditelpon, disms, gagal terus," kisahnya.

Namun, setelah pukul 23.00, Sohibi baru bisa mengetahui kondisi Andi. Saat itu, Andi mengabarkan jika dirinya dalam kondisi selamat. Walau sudah diberi tahu kondisinya, tapi Sohibi masih dilanda kecemasan. Dia berulangkali melihat kondisi gempa bumi dan tsunami di layar tivi. 

"Saya baru lega ketika Andi ngabari kalau sudah di Makasar. Dan mau jalan (terbang) ke Jakarta," ucapnya haru.

Setelah sampai rumah, Sohibi langsung memeluk anak kesayangannya itu. Andi bekerja sebagai teknisi sejak 2009. Andi mengaku masih merasa sedikit trauma dengan pengalaman mencekam berada di tengah-tengah bencana. Saat ini, Andi sedang mengajukan cuti. 

"Saya mau cuti dulu. Sekalian mau bikin SIM, STNK, yang hilang karena ada di dompet yang saya tinggal di penginapan," tutupnya.



(JMS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id