Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Dwikorita Karnawati. Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Dwikorita Karnawati. Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko

BMKG: Tsunami Selat Sunda Tak Dipicu Gempa Bumi

Nasional Tsunami di Selat Sunda
23 Desember 2018 08:03
Jakarta: Tsunami yang menyapu pantai barat Banten pada pukul 21.27 WIB, 22 Desember 2018, bukan dipicu gempa bumi. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendeteksi beberapa hal yang menyebabkan peristiwa yang menyebabkan puluhan orang meninggal itu.

1. Gelombang tinggi karena cuaca

BMKG mendeteksi dan memberikan peringatan dini gelombang tinggi yang berlaku pada 22 Desember pukul 07.00 WIB hingga 25 Desember pukul 07.00 WIB di wilayah perairan Selat Sunda. Laporan dari tim lapangan BMKG, pukul 09.00 hingga 11.00 WIB terjadi hujan lebat dan angin kencang di perairan Anyer.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



2. Erupsi Gunung Anak Krakatau BMKG berkoordinasi dengan Badan Geologi melaporkan bahwa pada pukul 21.03 Gunung Krakatau mengalami erupsi kembali sehingga peralatan seismometer setempat rusak. Namun, seismik Stasiun Sertung merekam adanya getaran tremor yang terjadi terus menerus.

"Tidak ada frekuensi tinggi yang mencurigakan," demikian dilaporkan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Dwikorita Karnawati, melalui keterangan tertulis.

Berdasarkan rekaman seismik dan laporan masyarakat, kata Dwikorita, peristiwa ini tidak disebabkan oleh aktivitas gempa bumi tektonik. Namun, sensor Cigeulis (CGJI) mencatat adanya aktivitas seismik dengan durasi sekitar 24 detik dengan frekuensi 8-16 Hz pada pukul 21.03 WIB.

3. Tsunami di Banten dan Lampung

Berdasarkan hasil pengamatan alat pendeteksi tsunami (tide gauge) didapatkan data bahwa:
- Ketinggian air laut di Pantai Jambu, Desa Bulakan, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, mencapai 0,9 meter pada pukul 21.27 (Tide Gauge Serang) 
- Ketinggian air laut di Pelabuhan Ciwandan, Kecamatan Ciwandan tercatat mencapai 0,35 meter pada pukul 21.33 WIB (Tide Gauge Banten)
- Ketinggian air laut di Desa Kota Agung, Kecamatan Kota Agung, Lampung, tercatat 0,36 meter pada pukul 21.35 WIB (Tide Gauge Kota Agung) 
- Ketinggian air laut di Kecamatan Panjang, Kota Bandar Lampung, mencapai 0,28 meter pada pukul 21.53 WIB (Tide Gauge Pelabuhan Panjang)

"Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Juga dihimbau untuk tetap menjauh dari pantai perairan selat sunda hingga ada perkembangan informasi dari BMKG dan Badan Geologi," kata Dwikorita.

Alasan kenapa penyebutan tsunami terlambat

Semalam, BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BMKG) masih menyebut peristiwa ini sebagai gelombang pasang. Ini disebabkan adanya fenomena bulan purnama. Laporan dari tim lapangan BMKG pada pukul 09.00 hingga 11.00 WIB (22 Desember) pun menyebut akan terjadi hujan lebat dan angin kencang di perairan Anyer.

Hasil dari pantauan beberapa tide gauge, tingginya air laut ternyata disebabkan oleh tsunami. BMKG menyebut tsunami terjadi kemungkinan akibat longsor bawah laut. Peristiwa ini terjadi karena pengaruh erupsi Gunung Anak Krakatau. Di saat bersamaan juga terjadi gelombang pasang akibat pengaruh bulan purnama. 

"Jadi, ada kombinasi antara fenomena alam yaitu tsunami dan gelombang pasang," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Akibat peristiwa ini, sebanyak 21 orang tewas dan 165 orang terluka. Satu orang dinyatakan hilang. Laporan ini tercatat hingga pukul 04.30 WIB (23 Desember).




(UWA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi