Ilustrasi. (Metrotvnews.com)
Ilustrasi. (Metrotvnews.com)

Kurangnya Intimasi Disebut Memicu KDRT

Nasional kekerasan dalam rumah tangga
15 Desember 2017 16:03
Jakarta: Kasus kekerasan yang dilakukan oleh orang terdekat semakin sering terjadi. Bahkan tak jarang menghilangkan nyawa anggota keluarga maupun kerabat begitu mudah dilakukan saat seseorang diliputi emosi.
 
Kriminolog Adrianus Meliala menduga selain faktor ekonomi, hal lain yang bisa memicu kekerasan hingga berujung pembunuhan karena kurangnya interaksi antar-anggota keluarga.
 
"Peningkatan itu memang ada kaitannya dengan kualitas kehidupan intim yang berkurang, hubungan antara orang per orang dalam keluarga," ujar Adrianus, dalam Newsline, Jumat 15 Desember 2017.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Adrianus mengatakan kurangnya interaksi antaranggota keluarga salah satu pemicunya karena aktivitas sehari-hari yang padat. Ditambah, kehadiran gawai membuat kualitas waktu bersama keluarga menjadi semakin berkurang.
 
"Makanya kalau ada masalah larinya ke hal yang sifatnya emosional. Memang ini sinyal yang menurut Saya harus diwaspadai," katanya.
 
Menurut Adrianus, kekerasan yang dilakukan justru lebih kepada hal-hal yang tidak pernah dibayangkan. Bukan lagi secara fisik dengan menyakiti atau memberikan label yang merendahkan, di beberapa kasus kekerasan justru dilakukan sampai pada pembunuhan.
 
Tak berhenti di sana, umumnya pelaku akan melakukan segala cara agar tindakannya tak mudah diketahui oleh orang lain terutama penegak hukum. Salah satunya memutilasi korban untuk menghilangkan jejak.
 
"Tapi mesti dibedakan dulu pembunuhan dengan mutilasi itu dua hal yang berbeda. Pembunuhan rata-rata direncanakan, tanpa perencanaan polanya akan berbeda sedangkan mutilasi, ada suatu kualitas yang masih diselidiki tentang karakter seperti apa yang mampu melakukan mutilasi itu," ungkap Adrianus.
 
Adrianus mengatakan hampir semua kasus mutilasi melibatkan orang paling dekat dengan korban. Sekitar 89 kasus mutilasi yang ditemukan Adrianus sejak puluhan tahun bahkan tak menunjukkan bahwa pelaku menderita gangguan mental khusus atau sakit jiwa.
 
"Dari apa yang Kami temukan bertahun-tahun itu semuanya (pelaku) normal. Mereka memiliki peran, status, tingkat pendidikan dan tidak sampai pada psikopat," jelasnya.
 

 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif