Hewan sapi. Foto: MI/Ramdani
Hewan sapi. Foto: MI/Ramdani

Umat Muslim Diminta Hindari Hewan Terpapar PMK untuk Kurban

Ferdian Ananda • 22 Mei 2022 23:58
Jakarta: Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta masyarakat menghindari hewan yang terpapar atau bergejala penyakit mulut dan kuku (PMK) untuk kurban. Penyakit ini tengah merebak dan menyerang hewan ternak seperti sapi.
 
"Hewan terpapar PMK itu kan berpenyakit, kalau ada hewan yang sehat sebaiknya kita tidak menggunakan hewan sakit karena akan berdampak pada hal-hal yang mudharat," kata Ketua Komisi Fatwa MUI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Makhrus Munajat, dilansir laman resmi MUI, Minggu, 22 Mei 2022.
 
Ia mengatakan masyarakat memang diwajibkan memilih hewan yang sehat, tidak cacat fisik, dan cukup umur. Hal ini sesuai syariat Islam dalam berkurban.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Bahkan yang (cacat) fisik pun kita tidak boleh misalnya tanduk hilang, hewan yang ekornya putus, telinganya hilang satu juga tidak boleh," sebut dia.
 
Selama masih ada hewan yang sehat, kata dia, maka masyarakat tidak memilih hewan yang terpapar maupun bergejala PMK. Termasuk, yang terkena antraks atau cacing hati.
 
"Masyarakat juga tidak panik menghadapi wabah PMK," ungkap dia.
 
Baca: Jelang Iduladha, Kementan Gencar Putus Virus PMK Hewan
 
Namun, apabila masyarakat terlanjur dan tidak mengetahui hewan ternak yang telah disembelih untuk kurban ternyata terpapar virus penyebab PMK, tetap halal dikonsumsi. "Ketika disembelih pun dagingnya halal dimakan. Dagingnya sah dimakan," tutur dia.
 
Sementara itu, Kepala Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates Hendra Wibawa menuturkan masyarakat yang hendak berkurban dapat memilah hewan yang terpapar PMK dari sejumlah gejala klinis. Misalnya, mulut melepuh dan lendir berlebih, demam, serta luka pada bagian kaki.
 
Secara prinsip, dia menyebut PMK bukan tergolong zoonosis atau penyakit yang dapat ditularkan hewan ke manusia. Sehingga, apabila daging hewan yang terpapar terpaksa dikonsumsi oleh manusia tidak membahayakan.
 
Namun, pihaknya meminta masyarakat menghindari mengonsumsi bagian kaki, kepala, dan jeroan atau organ dalam hewan. Sebab, bagian itu paling banyak terpapar virus penyebab PMK.
 
"Tidak membahayakan manusia, jadi risiko zoonosis-nya diabaikan karena belum ada penyakit PMK pada manusia. Ini berbeda dengan penyakit mulutnya manusia," ujar Hendra.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif