Remaja Pelaku Kejahatan Dinilai Matang secara Moral
Ilustrasi. (Medcom.id)
Jakarta: Kasus pembunuhan balita Grace Gabriela Bimusu oleh remaja berusia 15 tahun menyentak banyak pihak. 

Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Reza Indragiri menilai ada banyak kemungkinan yang membuat seorang anak atau remaja tega melakukan kejahatan bahkan sampai menghilangkan nyawa seseorang.

Namun khusus kasus R, Reza meyakini bahwa R merupakan remaja yang sudah memahami konsep benar dan salah serta mampu menilai tindakan yang telah dilakukan.


"Usia pubertas saya pikir sudah memiliki kecerdasan intelektual dan punya kematangan secara moral. Saya yakin yang bersangkutan (pelaku) tahu persis apa yang dilakukan itu salah," ungkapnya, dalam Metro Siang, Minggu, 27 Mei 2018.

Baca juga: Dendam Jadi Alasan Pelaku Membunuh Grace

Reza menduga kejahatan yang dilakukan oleh R merupakan manifestasi dari kecerdasan intelektual dan kecerdasan moral yang salah. Di samping itu, faktor eksternal seperti pengaruh lingkungan sekitar, pergaulan sebaya sampai dengan pengasuhan yang kurang baik juga menyumbang perilaku kasar seorang anak.

"Faktor eksternal dan internal itu berinteraksi sedemikian rupa sehingga bisa saja bermanifestasi ke dalam perilaku kekerasan yang dilakukan tersangka," katanya.

Meski 'tampilan' R dinilai sudah matang secara moral apalagi dalam pengungkapan kasus bahwa R diduga menyimpan dendam terhadap keluarga korban, tak otomatis menjustifikasi bahwa perilaku R adalah terencana. 

Reza menilai dalam pengungkapan kasus tersebut paling tidak ada empat hal yang harus ditinjau dari segi psikologis secara tepat dan komprehensif. Ini untuk menentukan apakah R memang telah merencanakan aksi atau hanya spontanitas.

Baca juga: Pola Asuh Diduga jadi Sebab Pembunuh Grace Pendendam

Pertama adalah konsep diri pelaku, kedua pemahaman akan risiko yang akan dihadapi ketika melakukan perbuatan tertentu, ketiga perspektif tentang masa depan, dan keempat pengaruh sosial.

"Keempat ini semestinya bisa dilakukan pengukuran agar yang bersangkutan tidak berlindung di balik usia. Sehingga kita bisa pahami secara angka 15 tahun dan secara kualitatif apakah yang bersangkutan sudah punya kecakapan secara matang dan seterusnya," ungkap Reza.

Meski dipastikan membuat pihak korban berduka bahkan murka, Reza mengatakan penegakan hukum terhadap anak pelaku kejahatan tetap berpegang pada aturan sistem peradilan pidana anak (SPPA) jika memang usianya masih di bawah 18 tahun.

Prinsip penegakan hukum mengacu pada Undang-Undang SPPA harus bebas ari unsur balas dendam kendati sangat merugikan korban. Anak pelaku kejahatan harus tetap dipandang sebagai individu yang memiliki masa depan sehingga tetap layak diperlakukan sebagai manusia beradab.

"Hukuman pemenjaraan andai dijatuhkan tentu bukan hukuman efektif yang memunculkan efek jera, ada sanksi lain yang bisa dikenakan terhadap pelaku seperti hukuman sosial, kerja, dan seterusnya. Pelaku juga bisa diminta bayar ganti rugi restitusi bagi korbannya," jelas dia.





(MEL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id