Peneliti Ekologi Manusia dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Deny Hidayati. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama..
Peneliti Ekologi Manusia dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Deny Hidayati. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama..

Kebakaran Hutan Masih Mengancam Jambi

Nasional kebakaran hutan
Ilham Pratama Putra • 27 Desember 2018 15:18
Jakarta: Pengetahuan masyarakat Jambi dalam menanggulangi bahaya asap dari pembakaran hutan dan lahan (Karhutla) dinilai masih minim. Akibatnya, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jambi masih tinggi.
 
Peneliti Ekologi Manusia dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Deny Hidayati mengatakan, berdasarkan catatat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 54 kali karhutla terjadi di Provinsi Jambi dalam periode 1997 hingga 2017. Puncaknya di tahun 2015, karhutla menjadikan Provinsi Jambi sebagai kawasan dengan titik api terbanyak di Indonesia, yakni 1.740 titik.
 
"Dampaknya mengerikan. 124 ribu jiwa di Jambi terkena infeksi saluran pernapasan atas," kata Deny di Gedung LIPI, Jakarta, Kamis, 27 Desember 2018.
 
Dia mengatakan karhutla masih terjadi pada 2018, pengurangan risiko asap karhutla sangat penting. "Karhutla masih terjadi dan WMO (World Meteorological Organization) telah memberikan warning untuk antisipasi El Nino pada 2019," kata Deny.

Baca: Kebakaran Hutan Ringgit Disebabkan Arang

Deny menuturkan, terbatasnya pengetahuan penduduk menjadi kendala. Informasi tentang apa yang perlu disiapkan untuk meminimalisasi dampak asap masih terbatas.
 
"Penduduk belum memahami konsep rumah yang aman dari asap. Meminimalisasi asap masih dengan menutup hidung dan sapu tangan, selendang atau jilbab. Itu kan tidak aman," tutur Deny.
 
Dia berharap sosialisasi tentang bahaya karhutla ditingkatkan. Karena peran pemerintah dan lembaga terkait dinilai masih kurang.
 
"Ini ancaman yang serius. Kita semua harus ambil peran yang lebih aktif. Kita harus sosialisasikan. Kita tentu tidak mau kejadian 2015 terulang kembali," kata Deny.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?




(FZN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi