Pendeteksi Tsunami Indonesia Sudah Uzur
Kehancuran akibat gempa dan tsunami di kota Palu, Sulawesi Tengah, 30 September 2018. Foto AFP
Jakarta: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengakui alat-alat yang terpasang untuk mendeteksi gempa dan tsunami harus diperbarui. Hal ini dilakukan agar informasi ke masyarakat lebih akurat.
 
"Tantangannya, kita harus introspeksi bersama-sama apa yang harus diperbaharui dan harus ditambah untuk menginformasikan ke masyarakat," kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat BMKG, Harry Tirto di Jakarta, Sabtu, 13 Oktober 2018.
 
Harry menjelaskan perihal misinformasi ketika tsunami menerjang Sulawesi Tengah. "Memang waktu itu awalnya gempa 5,9 Skala Richter (SR). Lalu baru ada susulan-susulan sampai 7,4 SR. Kita sudah informasikan tidak ada tsunami tetapi ternyata tsunami itu datang bersamaan gempa 7,4 itu," katanya.

Baca: Pemerintah Kebut Pembangunan Hunian Sementara

BMKG berencana memasang sensor tsunami dan gempa dasar laut. Sebab, teknologi sensor yang ada saat ini sudah ketinggalan zaman.
 
Teknologi sensor dasar laut dinilai lebih cepat dan akurat mengirim informasi dibanding sensor terapung. Sensor dasar laut bisa mengirimkan informasi seketika ketika terjadi gempa dan tsunami. Sementara sensor yang terapung butuh waktu hingga dua menit.






(FZN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id