Pertanian. foto : MI/Ramdani.
Pertanian. foto : MI/Ramdani.

Buruh Diminta Tak Bergantung pada Perusahaan

Nasional pertanian buruh Petani
Achmad Zulfikar Fazli • 30 April 2021 00:32
Jakarta: Buruh diminta lebih meningkatkan kapasitas diri. Sehingga, tidak bergantung pada perusahaan.
 
Mantan Sekretaris Wilayah Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Asep Eka Dwi Sunandar mengatakan buruh, khususnya di Kalimantan Tengah, perlu memikirkan dan menggerakkan sektor lain. Seperti pertanian di Palangkaraya.
 
"Sehingga mampu swasembada sayur mayur dan kebutuhan pangan lainnya, tidak cukup menuntut ini dan itu, tapi perlu meningkatkan kualitas dan kapasitas para petani di sini. Peluang pengembangan pertanian terbuka lebar," ujar Asep dalam keterangan tertulis, Jakarta, Kamis, 29 April 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Asep sempat masuk ke dunia politik. Baginya politik mampu menciptakan kesejahteraan bagi warga melalui kebijakan.
 
Selama 4 tahun, Asep bekerja sebagai Tenaga Ahli anggota DPRD Kalimantan Tengah. Dia merasa perlu mengoptimalkan perannya di masyarakat dengan tetap aktif berorganisasi.
 
Namun, dia memutuskan meninggalkan politik praktis dan hidup sebagai petani. Menurut dia, masyarakat harue menghindari politik kalau belum benar-benar siap menghadapi situasi terburuk.
 
“Kita lakukan sesuatu yang nilai maslahatnya lebih besar,” ujar petani asal Palangkarya.
 
Dia tak menampik ada beberapa kendala pertanian di Kalimantan Tengah. Lahan di Kalimantan Tengah kurang cocok sebagai lahan pertanian. Tanahnya bukan berpasir, tapi tanah pasir. Tidak ada unsur hara yang dikandungnya.
 
"Kita bisa bayangkan betapa beratnya hidup sebagai petani di sini," ujar dia.
 
Alhasil, petani di Kalimantan Tengah melakukan mengembangkan pupuk kandang. Dia bersama teman-temannya kemudian membentuk kelompok tani.
 
Dari rencana yang dibuat kelompok tani berhasil menanam cabai, kembang kol, kacang panjang, brokoli, dan sebagainya. Setidaknya petani bisa mengoptimalkan lahan dalam kondisi tanah yang tidak mendukung.
 
Dengan hasil yang melimpah, petani bisa menjual hasilnya dengan harga kompetitif. Namun, masih sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan Palangkaraya.
 
Mulai dari 2016, setiap tahun omzet usaha bisa mencapai ratusan juta. Ini adalah pencapaian buat pemula.
 
“Tantangan terberat adalah mengubah paradigma. Kita mengajak orang bergabung menghasilkan sesuatu dengan bercocok tanam, kita harus yakinkan dulu diri kita sehingga bisa menjadi contoh bagi mereka. Kalau sudah kelihatan, orang lain akan melihat,” ujar bapak tiga anak ini.
 
Baca: Selama Pandemi, Buruh Informal dan Pelaku UMKM Meningkat
 
Baginya, hal yang paling membanggakan adalah produk yang dibuat bisa laku dijual karena kualitas. Dari sana petani mendapat perhatian kepala daerah.
 
Beberapa waktu lalu, kelompok tani menyampaikan sejumlah hal yang perlu diperhatikan kepala daerah. Yakni, memanfaatkan penyuluh agar lebih optimal, membangun sekolah pertanian, intervensi pasar sehingga harga tidak merugikan petani.
 
Bermula dari sana petani di Kalimantan Tengah mengembangkan diri. Melalui enam orang dengan lahan dua hektare, perlahan petani mendapat kepercayaan untuk bekerja sama dengan sejumlah pihak.
 
"Kader muda tani mulai sekarang harus dididik tidak bergantung pada bantuan dan program pemerintah. Peningkatan kapasitas usaha terus kami lakukan bekerjasama dengan Yayasan Tambuhak Sinta dalam pelatihan tata kelola keuangan dan usaha hasil pertanian," ujar dia.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif