Mata Rantai Jurnalis Indonesia menggelar penggalangan dana untuk membantu korban karhutla. Foto: Medcom.id/ Sonya
Mata Rantai Jurnalis Indonesia menggelar penggalangan dana untuk membantu korban karhutla. Foto: Medcom.id/ Sonya

Jurnalis Indonesia Galang Dana untuk Korban Karhutla

Nasional kebakaran hutan Kebakaran Lahan dan Hutan
Sonya Michaella • 22 September 2019 09:21
Jakarta: Mata Rantai Jurnalis Indonesia menggelar penggalangan dana untuk membantu korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatera. Saat ini, terdapat 24.589 kasus terdampak karhutla di Riau.
 
“Jurnalis itu kan merupakan penghubung masyarakat. Jadi, kami di sini menggalang dana untuk membantu para korban terpapar kabut asap,” kata jurnalis Radio ElshintaRiman Wahyudidi kawasan Car Free Day Thamrin, Jakarta, Minggu 22 September 2019.
 
Riman menambahkan Pemerintah Indonesia tidak bisa bergerak sendirian. Maka itu, para jurnalis juga turut membantu para korban dengan menggalang dana untuk dibelikan masker.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Masker khusus untuk menangkal kabut asap itu cukup mahal, sekitar Rp19 ribu satu masker. Berapa pun yang terkumpul hari ini akan kami belikan masker, besok,” ucap Riman.
 
Menurut dia, sejumlah jurnalis daerah di Kalimantan dan Sumatera membenarkan keadaan yang semakin parah di sana. Kabut asap semakin tebal hingga membuat napas warga sesak.
 
“Kami juga meminta agar pemerintah segera menindak para pemilik perusahaan yang menyebabkan kabut asap. Seharusnya, mereka bertanggungjawab atas bencana ini,” ungkap dia lagi.
 
Sekitar 30 jurnalis pun hadir untuk menggalang dana. Jurnalis yang datang tak pandang bulu dari jurnalis cetak, online, radio, televisi maupun foto.
 
Karhutla dilaporkan tersebar di tujuh provinsi, yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua. Total titik panas mencapai 4.012 per Sabtu, 14 September 2019.
 
Total lahan yang terbakar sejak Januari hingga Agustus 2019 seluas 328 ribu hektare. Sebanyak 27 persen dari lahan yang terbakar berupa lahan gambut, sedangkan sisanya lahan mineral.
 
Karhutla di sejumlah provinsi menyebabkan gangguan terhadap penerbangan baik penundaan hingga dihentikan. Asap juga memberikan dampak kesehatan warga seperti infeksi saluran pernapasan (ispa).

 

(NUR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif