Pakar Geologi ITS Surabaya Amien Widodo Foto: Dok/Metro TV
Pakar Geologi ITS Surabaya Amien Widodo Foto: Dok/Metro TV

Metro Siang

Erupsi Semeru Banyak Makan Korban, Pakar Geologi: Peta KRB Perlu Diperbaharui

Nasional ITS gunung semeru Metro Siang Gunung Semeru Meletus Gunung Semeru Erupsi korban erupsi Gunung Semeru
MetroTV • 09 Desember 2021 01:13
Surabaya: Erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada Sabtu, 4 Desember 2021 kemarin dikatakan terdeteksi oleh seismograf. Namun, seismograf tidak dapat mengukur seberapa besar guguran awan panasnya.
 
"Diamati menggunakan seismograf memang menunjukkan waspada, kemudian terjadi guguran tadi juga terekam oleh seismograf sebagai suatu tremor, tetapi memang tidak terlihat besarnya," ujar Pakar Geologi ITS Surabaya Amien Widodo dalam program Metro Siang, Metro TV, Rabu, 8 Desember 2021.
 
Memang terjadi penumpukan material yang terjadi cukup lama. Kemudian, dipicu oleh hujan membuat material tersebut turun. Kondisi yang sangat gelap menyebabkan hal tersebut tidak terlihat dari pos pantau.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Amien menyarankan agar pemerintah dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menambahkan alat ukur baru. Hal ini untuk mengetahui seberapa besar guguran material yang ada.
 
"Jadi dengan memasang beberapa sensor jadi tahu ukuran tadi itu (guguran material) ternyata besar, sehingga peningkatan level siaga dan lain sebagainya itu bisa dilakukan," kata Amien.
 
Selain itu, Amien menyebut peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) perlu diubah. Mengingat sebaran lava dan awan panas erupsi Gunung Semeru tidak melewati daerah yang digambarkan dalam peta KRB. Kemudian, peta tersebut juga sudah dibuat sejak tahun 1996.
 
“Lava dan awan panas ini tidak melewati tempat tempat yang digambarkan yang dahulu dan sudah melebar kemana mana. Mestinya ini harus sudah segera diubah sehingga bisa menjadi petunjuk yang lebih baik,” ucapnya.
 
Amien menegaskan peta KRB dibuat agar tidak menjadi hunian tetap bagi masyarakat. Namun, diketahui pada erupsi kemarin lava dan awan panas melewati hunian masyarakat hingga menimbulkan korban.
 
Menurut Amien, apabila masyarakat ingin menempati area KRB maka perlu edukasi yang lebih banyak dibandingkan masyarakat diluar area KRB. Selain itu, tingkat waspada masyarakat disana juga harus lebih tinggi (Widya Finola Ifani Putri)
 
(MBM)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif