Jembatan Penyebrangan Orang (JPO), MI/Bary Fathahilah.
Jembatan Penyebrangan Orang (JPO), MI/Bary Fathahilah.

Mahasiswa ITS Rancang JPO Ramah Difabel

Nasional Pendidikan Tinggi
Antara • 02 Januari 2019 17:23
Surabaya:Tiga mahasiswa Teknik Infrastruktur Sipil, InstitutTeknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya merancang jembatan penyeberanganorang (JPO) ramah difabel dan lingkungan dengan mengusung tema Sustainable Design.
 
"Alasan membuat rancangan tersebut dilatarbelakangi minimnya JPO yang ramahterhadap penyandang disabilitas atau difabel," kata Ketua tim CT GenerationII, Nafi Maula Abdullah bersama dua rekannya M Ali Burhan, dan AfifArgadipa Alfiansyah di kampus setempat, Rabu, 2 Januari 2019.
 
Dalam pengerjaan, ketiganya bekerja sesuai pembagian tugas. Nafi MaulaAbdullah dan M Ali Burhan mengerjakan pengitungan, sedangkan Afif ArgadipaAlfiansyah merancang desain jembatan dan karya yang bisa diselesaikan dalamdua minggu.Nafi menjelaskan, aspek pertama yang mereka tekankan adalah kenyamanan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jika biasanya akses JPO hanya ditunjang dengan tangga, dia dan dua kawannyamembangun lantai miring pengganti tangga untuk memudahkan akses difabel."Lantai ini dibuat dengan kemiringan 20 derajat, sesuai dengan peraturanKementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
 
"Kami tidakmenggunakan lift karena biaya pembangunannya tidak ekonomis," kata Nafi.
 
Di samping fungsi utamanya untuk menyeberang, jembatan ini juga dirancanguntuk dapat memanen energi terbarukan dengan memanfaatkan kedua musim yang ada di Indonesia.
 
"Tak kurang dari delapan buah panel surya terpasang di atas atap jembatanuntuk membendung panas matahari pada musim kemarau," ujarnya.
 
Adapun untuk musim hujan, mereka meletakkan turbin pada talang air yangnantinya akan digerakkan oleh air hujan."Energi yang tersedia di alam akan diubah menjadi listrik. Sistem ini mampumencapai efisiensi hingga 60 persen," tuturnya.
 
Baca:Paduan Suara UB Sabet Emas di Korea Selatan
 
Nafi melanjutkan, tim juga membuat analisa perhitungan struktur jembatanyang ekonomis. Mereka menggunakan profil baja WF 400 yang dimensinya tidakmterlalu besar, namun tetap kuat untuk memikul besarnya beban.
 
"Sempat bingung sebenarnya saat akan menentukan profil baja, akhirnya kamipilih baja itu dengan lekukan ke bawah sekitar tiga centimeter," katanya.
 
Aspek biologis juga turut mereka sertakan dalam rancangan ini. Tingginya polusipada udara jalan raya ditekan dengan cara menanam tanaman "Lidah Mertua".Tanaman ini juga memiliki bunga yang mekar pada malam hari, dan initerbukti efektif untuk menyedot polusi udara. Selain itu, untuk memanjakanpengguna, mereka juga meletakkan bunga Seulanga atau Kenanga di sepanjangjembatan.
 

(CEU)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif