BMKG Minta Ada Satelit Khusus Mitigasi Bencana

Whisnu Mardiansyah 06 Oktober 2018 16:21 WIB
gempatsunamiGempa Donggala
BMKG Minta Ada Satelit Khusus Mitigasi Bencana
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati. Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko.
Jakarta: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengusulkan ada satelit khusus untuk proses mitigasi bencana di tanah air. Dengan satelit, data-data informasi potensi bencana bisa lebih cepat dan akurat disampaikan ke masyarakat.
 
Usulan ini mengantisipasi lambatnya informasi yang masuk ke BMKG akibat matinya listrik dan jaringan komunikasi. Seperti yang terjadi di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.
 
"Kami, saya selaku BMKG mengusulkan adanya satelit khusus untuk bencana," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam diskusi bertajuk 'Palu Retak' di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 6 Oktober 2018.
 
Ia memastikan alat sistem peringatan dini tsunami di Palu berfungsi. Alat itu ada di Pelabuhan Tantoloan dengan sistem kerja komputerisasi dan sangat akurat.

Baca: Gardu Listrik di Kota Donggala 100% Menyala

Namun, ada satu data dari alat yang terpasang di Pelabuhan Tantoloan yang tidak sampai ke BMKG. Data itu menginformasikan naik tidaknya posisi air laut di Pantai.
 
Menurutnya, data dari Pelabuhan Tantoloan sangat penting untuk memverifikasi peringatan dini yang sudah diumumkan menjelang pukul 18.07 WITA saat itu. Penyebabnya, karena sistem komunikasi terputus.
 
"Namun, data itu tidak masuk ke BMKG. Jadi, alat itu bekerja, hanya tidak bisa mengirimkan datanya ke BMKG," pungkasnya.
 
Sebelumnya, BNPB memperbarui total korban jiwa akibat gempa 28 September 2018. Korban meninggal di Donggala sebanyak 159 orang, Kota Palu 1.413 orang, Sigi 64 orang, Parigi Moutong 12 orang, dan Pasangkayu, Sulawesi Barat 1 orang.






(FZN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id