Ilustrasi korona. Medcom.id
Ilustrasi korona. Medcom.id

Doni Monardo: Covid-19 Bukan Konspirasi

Nasional Virus Korona
Fachri Audhia Hafiez • 05 Agustus 2020 16:42
Jakarta: Kepala Satuan Tugas Nasional Penanganan Covid-19, Letnan Jenderal Doni Monardo, geram masih ada masyarakat yang masih menyepelekan virus korona (covid-19). Bahkan, ada yang menilai virus itu cuma konspirasi.
 
"Covid-19 bukanlah rekayasa dan bukan konspirasi. Covid-19 ibarat pencabut nyawa," ujar Doni saat audiensi virtual dengan Direksi Media Group News, di Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2020.
 
Doni menuturkan kelompok rentan seperti lansia dan komorbid atau memiliki penyakit penyerta, punya potensi kematian besar saat terjangkit covid-19. Dia menjelaskan tipe penyakit tersebut sejatinya telah menjadi ancaman serius selama beberapa dekade lalu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mencontohkan flu Spanyol pada 1918. Kasus penularan covid-19 tidak jauh berbeda dengan flu Spanyol. Penularan tidak hanya melalui sentuhan tetapi dengan interaksi timbal balik.
 
Penyebabnya, droplet atau cairan ludah yang menjadi sumber infeksi. Pada flu Spanyol, orang sehat bisa menularkan penyakit atau akrab dikenal dengan istilah orang tanpa gejala (OTG). Sama halnya dengan pandemi covid-19.
 
(Baca: Hoaks dan Teori Konspirasi Ganggu Upaya Penanganan Covid-19)
 
Doni bercerita flu Spanyol juga mewabah di Indonesia. Mengutip kliping berbahasa Belanda, ia menjelaskan, flu Spanyol mewabah di Jawa, Madura, Bali, dan Lombok.
 
"Estimasi jumlah korban di Jawa saja adalah empat juta jiwa berdasarkan Michigan State University," ucap Doni.
 
Penanganan pandemi flu Spanyol pada masa kolonial berbasis kearifan lokal. Pesan pencegahan virus kepada masyarakat disampaikan melalui media seperti wayang dan bahasa yang mudah dipahami.
 
Doni menyebut cara pendekatan tersebut juga diimplementasikan oleh Satuan Tugas Nasional Penanganan Covid-19 yang menjadi bagian kolaborasi pentahelix berbasis komunitas. Pemerintah juga menggalakkan edukasi, sosialisasi, dan mitigasi.
 
Ketiga unsur itu melibatkan tokoh masyarakat, agama, partai politik, hingga ke tingkat RT RW. Media juga berperan dalam sosialisasi dan edukasi dengan presentase hingga 63 persen. Sekaligus, pelibatan sosial antropolog dan sosiolog.
 
Doni menambahkan bencana non alam pandemi covid-19 sangat berbahaya. Namun, lebih berbahaya ketika menjadi carrier.
 
Hal itu menjadi salah satu pemantik angka positif covid-19 di Indonesia terus naik. Sebanyak 116.871 orang terkonfirmasi kasus covid-19 per 5 Agustus 2020. Sebanyak 5.452 dinyatakan meninggal dan 73.889 orang sembuh.
 
"Kenali ancamannya, siapkan strateginya, ketahui masalahnya, carikan solusinya," tegas Doni.
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif