Konferensi pers Polda Metro Jaya mengenai kasus pemufakatan jahat Oknum dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Abdul Basith. - Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.
Konferensi pers Polda Metro Jaya mengenai kasus pemufakatan jahat Oknum dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Abdul Basith. - Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.

Bom Molotov Dosen IPB untuk Ciptakan Kerusuhan

Nasional demo massa kerusuhan
Fachri Audhia Hafiez • 18 Oktober 2019 22:13
Jakarta: Polda Metro Jaya menyebut oknum dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Abdul Basith telah melakukan pemufakatan jahat. Abdul membuat bom rakitan untuk menciptakan kerusuhan saat Aksi Mujahid 212 pada 28 September 2019.
 
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono menjelaskan, perbuatan Abdul tersebut bentuk ketidakpuasan. Pasalnya, Abdul sempat melakukan aksi serupa saat unjuk rasa mahasiswa pada 24 September 2019, dengan menggunakan bom molotov.
 
"Dievaluasi ternyata kurang maksimal kegiatan untuk mendompleng untuk buat chaos tanggal 24 September. Makanya tanggal 24 malam, diadakan rapat lagi di tempat berbeda di rumah tersangka SO di daerah Tangerang," kata Argo di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Jumat, 18 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Argo menjelaskan, bom rakitan dibuat oleh tersangka dengan inisial Laode S. S sempat meminta bantuan meracik Laode N dan Laode A, namun keduanya berada di Papua. Tak hanya itu, tersangka JH yang berada di Bogor juga dihubungi.
 
Abdul memberikan uang Rp8 juta untuk ongkos Laode N dan Laode A ke Jakarta. Abdul juga merogoh kocek Rp1 juta untuk membeli bahan-bahan untuk membuat bom rakitan. Adapun racikan bahan peledak itu diantaranya paku, merica, mie instan, obat nyamuk bakar, lakban, dan sumbu.
 
Setiba di Jakarta, Laode N dan Laode A langsung diboyong ke rumah Abdul di Bogor, Jawa Barat. Abdul, tersangka YD, dan Laode S menggelar pertemuan di rumah SO.
 
"Tanggal 27 September di rumah SO dilakukan penangkapan setelah diketahui pemufakatan," ujar Argo.
 
Polisi menyita sejumlah barang bukti, diantaranya dari 28 bom rakitan, serta bahan peledak seperti merica, paku, hingga deterjen.
 
Argo mengatakan, semua tersangka mendekam di Rumah Tahanan (Rutan) Polda Metro Jaya. Para tersangka dijerat Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dan atau Pasal 169 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 KUHP Jo pasal 56 KUHP.
 

(BOW)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif