Universitas Riau, Kasus 'Safe House' Pertama Terorisme
Tim Densus 88 bersama tim Gegana Brimob Polda Riau membawa barang yang mencurigakan dari area penggeledahan gedung Gelanggang Mahasiswa Kampus Universitas Riau (UNRI) di Pekanbaru, Riau. (Foto: ANTARA/Rony Muharman)
Jakarta: Universitas Riau adalah kasus pertama lingkungan akademis dijadikan 'rumah aman' terorisme. Mereka menggunakan gelanggang mahasiswa yang jaraknya hanya 150 meter dari gedung rektorat.

"Ini kasus pertama di Indonesia," kata pengamat terorisme Ridlwan Habib dalam Metro Pagi Primetime, Senin, 4 Juni 2018.

Menurut dia, peristiwa hampir serupa pernah terjadi di Universitas Indonesia pada 2011. Bedanya, teroris tidak memakai gedung, melainkan memanfaatkan hutan kampus untuk penyimpanan senjata.


Ridlwan mengatakan, peristiwa di Universitas Riau menjadi peringatan: bukan cuma rumah kontrakan atau indekos yang acap dijadikan pusat kegiatan terorisme. Kampus atau tempat lain yang luput dari kecurigaan bisa dijadikan sebagai tempat baru.

Jaringan teroris yang merasa terus diintai akan selalu berpindah dan mencari cara baru mengelabui deteksi intelijen.

"Bayangkan kalau itu tidak terungkap ada bom siap pakai dan jaraknya hanya 150 meter dari rektorat. Kalau itu meledak dalam proses membawa saja bisa menimbulkan korban jiwa terutama mahasiswa," katanya.

Selain peringatan kepada pemerintah, kasus ini juga menjadi pelajaran bagi universitas lain untuk tidak membebaskan kegiatan kemahasiswaan sebebas-bebasnya.

Sebagian besar kampus mungkin masih mengizinkan kegiatan kemahasiswaan selama 24 jam, namun ada beberapa kampus yang sudah memberlakukan pembatasan kegiatan kemahasiswaan hanya sampai pukul 18.00 WIB.

"Di Universitas Indonesia sudah begitu. Kalau ada kegiatan di luar waktu perkuliahan harus tanya ke sekuriti, dicek oleh sekuriti. Salah satu kampus di Yogyakarta juga demikian, sehingga satpam kampus punya kredibilitas mengontrol mahasiswa, bukan mencurigai," ungkap dia. 

Ridlwan menduga kecolongan adanya perakitan bom di Universitas Riau tak lepas dari ketiadaan penanggung jawab atau pembina yang biasanya membawahkan kegiatan kemahasiswaan. Terlebih terungkap bahwa terduga pelaku merupakan alumnus kampus tersebut.

Rektorat perlu meninjau kembali sistem keamanan dalam kampus secara teknis termasuk memberi batasan tidak sembarang alumnus bisa masuk ke lingkungan kampus.

Secara lebih luas, kata dia, gerakan mahasiswa di dalam kampus terutama yang berafiliasi pada Islam perlu diaktifkan. Mereka perlu digandeng untuk mengontrol sekitarnya dan memastikan anggota di dalamnya tidak terpapar ideologi radikal dan terorisme.

"Radikalisme dalam konteks mempelajari agama itu baik, tapi radikalisme berujung tindakan kekerasan itu yang salah," jelas dia.





(MEL)