Kisah Heroik Enti, TKI Penyelamat Anak Majikan dari Kebakaran

Githa Farahdina 17 April 2018 22:37 WIB
kecelakaan kapaltki
Kisah Heroik Enti, TKI Penyelamat Anak Majikan dari Kebakaran
Enti Sadiyah, pekerja migran Indonesia di Singapura yang selamatkan anak majikan dari kebakaran kapal. Saat ini Enti masih menjalani perawatan di Singapura, Selasa, 17 April 2018. Foto: Medcom.id/ Githa Farahdina.
"Saya tidak ada penyesalan sama sekali karena di situ ada anak kecil yang nyawanya juga harus tertolong. Jadi saya berusaha untuk menyelamatkan,"

Singapura: Enti Sadiyah, pekerja migran Indonesia di Singapura, seperti sudah selesai dengan dirinya. Keselamatan diri sudah tak terlalu penting ketika di depan mata ada bocah tiga tahun yang harus diselamatkan.

Enti yang tampak tegar tak bisa menahan air mata ketika menceritakan kembali kebakaran di kapal pesiar yang membuat 50 persen bagian tubuhnya nyaris hangus. 


"Waktu itu saya tidak berpikir menyelamatkan diri saya. Saya hanya melihat anak kecil itu. Saya kasih ke ibunya," tutur Enti ketika ditemui di ruang perawatan salah satu rumah sakit di  Singapura, Selasa, 17 April 2018.

Baca: Enti Sadiyah, Sosok TKI Penyelamat Anak Majikan

Enti Pasrah. Kalaupun harus meregang nyawa, ia berharap meninggal dalam keadaan syahadah.

Enti mengaku sangat dekat dengan anak majikannya itu. Sehari-hari, selama 10 bulan belakangan, ia memang bertugas menjaga sang anak.

Peristiwa nahas itu terjadi sangat cepat. Enti yang sedang bersama anak majikannya berada di posisi 'segaris' dengan sambaran api. Kebakaran, lanjut Enti, terjadi ketika kapal pesiar milik majikannya dalam proses pengisian bahan bakar.

Menurut Enti, pengisian bahan bakar mendapat kendala. Ia tak tahu prosesnya, namun api tiba-tiba menyambar.

"Anak majikan langsung saya dorong ke ibunya supaya lari, supaya dia (berada) dekat ibunya dan terselamatkan," ucap perempuan asal Cirebon itu.

Enti baru terpikir menyelamatkan diri setelah memastikan bocah itu aman. Ia sempat berpikir melompat ke air, namun urung karena menyadari tak bisa berenang. Enti kemudian berusaha melompat ke luar kapal dan berlari dalam keadaan terbakar.

Enti berhasil lari 50 meter menjauh dari kapal, namun semburan api masih terasa. "Saya jatuh. Lalu saya coba lari lagi, sampai sekitar 300 meter, saya minta pertolongan," beber Enti.

Enti berkali-kali pingsan karena tak kuat menahan panas dan perih akibat luka bakar. Beruntung, seingat Enti, ada seorang warga negara asing membantu dengan mambawa Enti ke ruangan ber-AC. Bagian tubuh Enti yang terbakar langsung ditutupi handuk basah. Setelahnya, Enti sudah tak tahu dan baru siuman ketika berada di rumah sakit.

Enti mengalami masa kritis dan harus dirawat di ICU. Selang sepekan, ia sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan.

Hari ini Enti sudah tampak bugar. Operasi yang dijalani, Senin, 16 April 2018 berjalan lancar. Namun, Enti harus bersabar karena perawatan masih harus intensif dilakukan. 

Ingin Kembali ke Indonesia

Semua biaya pengobatan ditanggung majikan. Ia bahkan diperbolehkan kembali bekerja atau kembali ke Indonesia, dengan syarat sudah sembuh total.

"Kalau saat ini saya belum bisa, karena majikan belum memperbolehkan saya pulang. Harus sembuh total baru dia mengizinkan saya antara mau balik kerja atau pulang ke Indonesia," terang Enti yang mengaku hubungannya dengan majikan sangat baik.

Majikan Enti bahkan sampai mengirim Enti ke ke Johor untuk pemulihan. Seorang asisten rumah tangga sang majikan yang juga terluka sudah dipindah ke Johor karena sudah bisa berjalan. Sedangkan Enti belum bisa dipindahkan karena luka yang ia derita cukup serius, terutama di bagian pinggang hingga kaki.

Tekad kuat Enti segera pulih juga didorong keinginan segera bertemu keluarga. Enti yang mengaku baru menikah itu mengatakan akan mengikuti permintaan ibunya.

"Ibu suruh saya balik, jangan bekerja dulu. Saya turutin ibu saya. Soalnya dia tiap hari nangis, dia khawatir saya di sini tidak ada yang jaga, sendirian," beber Enti.

Saat ini, Enti hanya fokus pada kesembuhannya. Tak ada penyesalan karena ia ikhlas dan menganggap semua ini musibah yang bisa datang kapan saja.

"Saya hanya berharap saya bisa sembuh total lagi, bisa berjalan lagi. Dan saya bisa pulang ke Indonesia. Saya tidak pernah menyesali keadaan saya seperti ini," pungkas Enti.



(DEN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id