Sistem Alarm Tsunami Indonesia untuk 28 Negara
Ilustrasi. Medcom.id/Mohammad Rizal.
Jakarta: Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, teknologi sistem alarm tsunami Indonesia sudah tertinggal. Padahal, sistem alarm milik Indonesia berlaku secara internasional.

"Sistem peringatan dini di Indonesia ini sistem internasional bukan hanya untuk rakyat Indonesia tapi untuk rakyat 28 negara di sepanjang Samudera Hindia dari Afrika sampai Australia," kata Dwikorita di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu 6 Oktober 2018.

BMKG berharap tahun depan Indonesia memilki sistem alarm peringatan dini tsunami yang lebih modern. Salah satunya sistem sensor yang dipasang di dasar laut tidak lagi terapung seperti saat ini.


"Itu target kami quick win yang harus segera kami lakukan. Sudah ada pembicaraan dua tiga bulan yang lalu. Pembicaraan secara nasional," ujar Dwikorita.

Teknologi sensor dasar laut dinilai lebih cepat dan akurat mengirim informasi ketimbang sensor terapung. Sensor dasar laut bisa mengirimkan informasi seketika ketika terjadi gempa dan tsunami. Sementara sensor yang terapung butuh waktu hingga dua menit. 

"Sensor itu harus secepat mungkin memberikan informasi. Paling cepat sensor itu letaknya dengan pusat gempanya. Sensor yang terpasang saat ini letaknya di pantai," jelasnya. 



(LDS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id