Ketiadaan Dokumen Membuat TKI Tersandera
Ilustrasi/ANT/R. Rekotomo
Jakarta: Kasus penganiayaan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri terus berulang. Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo mengatakan TKI yang tak memiliki izin kerja dan dokumen resmi tak bisa bebas beraktivitas.

Mereka juga tak mendapat jaminan sosial dan kesehatan. Itu pula yang membuat mereka tak berani melapor kepada aparat setempat.

"Ketiadaan dokumen menjadikan mereka tersandera," kata Wahyu kepada Medcom.id, Kamis, 15 Februari 2018.


TKI tak bisa berbuat apa-apa. Mereka terancam dideportasi bila melapor dan ketahuan bekerja ilegal.

Baca: TKI di Malaysia Meninggal Diduga Disiksa Majikan

Wahyu menjelaskan preogram re-hiring atau pemutihan imigran ilegal oleh Pemerintah Malaysia dinilai tak berhasil. Dari target 650 ribu pendatang ilegal, pemerintah setempat hanya mampu menjangkau 230 ribu imigran asing, termasuk dari Indonesia.

"Karena biaya pemutihan yang di-charge oleh agen pengurus dokumen sangat tinggi," ucap Wahyu.

Baca: BNP2TKI Minta 103 TKI di Malaysia tidak Dideportasi

Sebelumnya, Adelina Jemirah, TKI asal Nusa Tenggara Timur tewas setelah sempat dirawat di rumah sakit. Sejumlah kegagalan ditemukan pada organ dalam tubuh. Ia diduga mengalami penganiayaan.

Deputi Perlindungan BNP2TKI Teguh Hendro Cahyono menyebut Adelina kemungkinan bekerja secara ilegal di rumah majikannya. Adelina bekerja di Malaysia sejak 2014. Artinya, ia masih berusia 17 tahun ketika dikirim ke Negeri Jiran. Adelina berusia 21 tahun ketika tutup usia di perantauan.



(OJE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id