44 Persen Pengguna Media Sosial tak Mampu Mendeteksi Hoaks

15 September 2018 11:11 WIB
media sosialhoax
44 Persen Pengguna Media Sosial tak Mampu Mendeteksi Hoaks
Ilustrasi. (Thinkstock)
Jakarta: Sebaran hoaks atau informasi palsu semakin memprihatinkan seiring dengan kemudahan transaksi informasi dan komunikasi melalui media sosial.

Tak hanya melalui platform digital media sosial, aplikasi perpesanan yang sifatnya pribadi tak luput dari sebaran-sebaran berita bohong.

Dailysocial.id melakukan sebuah riset tentang kemampuan masyarakat khususnya pengguna media sosial dalam mendeteksi hoaks. Bekerja sama dengan Jakpat Mobile Survey Platform, 2032 pengguna media sosial dilibatkan dalam riset tersebut.


"Hasilnya, 44,19 persen responden tak yakin punya kemampuan mendeteksi hoaks. Lebih dari setengahnya memilih berdiam diri atau tidak mempercayai informasi ketika menemukan informasi hoaks," ujar Chief Editorial and Research Dailysocial.id Amir Karimuddin, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 15 September 2018.

Menurut Amir banyak pengguna media sosial tidak dapat mencerna informasi dengan benar tapi berkeinginan kuat untuk membagikannya kepada orang lain.

Sayangnya, beberapa informasi justru menggiring interpretasi dan sudut pandang pembacanya terhadap apa yang disampaikan sumber.

"Riset ini mencoba mendalami bagaimana distribusi hoaks di platform digital dan tanggapan masyarakat terhadap informasi itu. Hasil yang diperoleh diharapkan menjadi referensi pemangku kebijakan untuk meminimalisasi dampak penyebaran hoaks di Indonesia," jelasnya.

Riset: Facebook Saluran Terbesar Penyebar Hoaks





(MEL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id